Ratap Anak Negeri

Ketika pahit getirnya kau kunyah

kemelut itu tetap kan terasa perihnya

meski sejuta bianglala memerah

dan si pandirpun tak hendak mengalah

gempita dalam lara anak negri

 

Di onak duri ini kau terserak

dalam bayangbayang  jingga yang memudar

punah dalam sedusedan tak bermakna

aduhai galau yang kau tempa

riaknyapun enggan menepi

 

Kemilau pagi tak jua berseri

kicau burung terdengar bak cemeti

karena derita makanan keseharian

tenggelam dalam gelak rajaraja

menuang anggur para durjana

Sudi al-Fakir 11 Maret, 2012 (dalam sedih yg mendalam, melihat anak-anak negeri bergelantungan di jembatan miring yg hampir roboh, di atas sungai dengan air yg deras bergolak demi mencari ilmu di sekolahnya).

M A L U

“Rasulullah saw lebih malu daripada seorang gadis pingitan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami hanya bisa menyimpulkan dari ekspresi wajah beliau.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikianlah dikatakan oleh Abu Said al-Khudri r.a., salah seorang sahabat Rasulullah saw.

Malu (haya’), sebagaimana di definisikan oleh para ulama, merupakan sikap mulia yang senantiasa mendorong seseorang untuk menghindari perbuatan buruk dan mencegahnya dari kegagalan melaksanakan kewajibannya baik terhadap Allah swt. maupun terhadap orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Nabi saw menekankan sikap ini, sebagaimana terlihat dalam sejumlah hadis shahih, dan menilainya sebagai kebaikan murni, baik bagi orang itu sendiri maupun bagi masyarakat sekitarnya.

Imran bin Husain berkata :
“Nabi saw bersabda : ‘Malu tidak membawa apapun selain kebaikan’.” (Muttafaq ‘alaih)

Abu Hurairah berkata :
“Nabi saw bersabda : ‘Iman memiliki lebih 70 cabang. Cabang yang tertinggi adalah mengucapkan lailaaha illallah, dan yang teringan adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan. Malu adalah salah satu cabang dari iman’.” (Muttafaq ‘alaih)

Juga sabda beliau pada suatu hari kepada para sahabat:
“Malulah kamu sekalian di hadapan Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” Mereka berkata, “Tapi kami sudah merasa malu, wahai Nabi Allah, dan segala puji bagi-Nya.” Beliau bersabda, “Itu bukanlah malu yang sebenarnya. Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah swt, hendaklah menjaga pikiran dan bisikan hatinya, hendaklah ia menjaga perutnya dengan apa yang dimakannya, hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur. Orang yang menghendaki akhirat hendaklah meninggalkan perhiasan-perhiasan kehidupan duniawi. Orang yang melakukan semua ini, berarti ia memiliki rasa malu yang sebenarnya di hadapan Allah.” (H.R. Tirmidzi dan Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

Dikatakan bahwa ada beberapa macam malu.

Yang pertama adalah malu yang disebabkan oleh suatu pelanggaran, seperti malu Nabi Adam as. ketika ditanya, “Apakah engkau berniat lari dari Kami?” Beliau menjawab, “Tidak, karena malu di hadapan-Mu.”

Yang kedua adalah malu karena merasa mempunyai keterbatasan, seperti malu para malaikat yang mengatakan, “Maha Suci Engkau, Kami telah menyembah-Mu tidak sebagaimana selayaknya Engkau disembah.”

Yang ketiga adalah malu karena mengagungkan, seperti malu Israfil as. yang menutupkan sayapnya ke tubuhnya karena malu kepada Allah.

Yang keempat adalah malu karena kemuliaan hati, seperti malu Rasulullah saw. ketika merasa malu untuk mempersilahkan pergi tamu-tamu beliau, dan Allah swt. lalu berfirman, “…dan jika kamu selesai makan, keluarlah kamu semua tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS.Al-Ahzab:53).

Yang kelima adalah malu karena enggan, seperti malu Ali bin Abu Thalib r.a. ketika menyuruh Miqdad bin al-Aswad untuk menanyakan kepada Nabi saw. tentang hukumnya madzy (lendir yang keluar dari alat kelamin laki-laki).

Yang keenam adalah malu karena terlalu remeh untuk diungkapkan, seperti malu Nabi Musa as. Ketika bermunajat, “Aku mengajukan suatu kebutuhan dari dunia ini, dan aku malu meminta kepada-Mu, wahai Tuhanku,” dan Allah lalu menjawab kepadanya, “Mintalah kepada-Ku, bahkan untuk adonan roti dan jerami untuk domba-dombamu.”

Akhirnya, ada malu karena sifat pemberi kenikmatan, yang merupakan malu Allah swt. Dia memberikan buku yang distempel kepada seorang hamba setelah melewati jembatan shirat di akhirat. Di dalam buku itu tertulis, “Engkau telah melakukan (dosa) ini dan itu. Aku malu menunjukkannya kepadamu, karena itu pergilah; Aku telah mengampunimu!”
Yahya bin Mu’adz berkata, “Maha Suci Allah, sedang Dia merasa malu, padahal dosa itu datang dari hamba-Nya.”

Al-Fudhil bin ‘Iyadh menjelaskan, “Ada lima tanda celaka seorang manusia: Kerasnya hati, bengisnya mata, tiadanya rasa malu, hasrat terhadap dunia, dan lamunan yang tiada terbatas.”

Salah satu kelemahan yang semakin merebak menghantui kita, menurut para pakar dan alim ulama adalah lenyapnya rasa malu. Perasaan malu jika melakukan kejahatan dan malu kalau tidak berbuat kebaikan sepertinya sudah tidak penting lagi kita miliki. Seolah semangat ganyang terus dan caplok terus selagi ada kesempatan sudah menjadi gaya hidup sehari-hari di negeri ini, negeri yang ironisnya mempunyai umat Islam terbesar di dunia.

Seorang muslimah, tidak malu lagi untuk tidak memakai jilbab dan justru merasa malu jika memakai jilbab baik ketika pergi ke sekolah maupun pergi ke kantor.

Seorang pemimpin yang sudah jelas tidak mampu bahkan telah melakukan kesalahan dan membuat hidup rakyat sengsara tetap ngotot mempertahankan kedudukannya dengan tidak sedikitpun mempunyai rasa malu.

Padahal, sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah yang dikutip diatas menceritakan lebih lanjut, bahwa salah satu kekayaan Rasulullah saw. yang menonjol sekali adalah rasa malu itu. Demikian pula dengan para sahabat Rasulullah saw.

Diriwayatkan Umar bin Ibnu Khattab ketika beliau menjadi Khalifah merasa sangat malu ketika mendapati rakyatnya, seorang janda dengan beberapa anak yang sedang menangis kelaparan di tengah malam buta, sehingga serta merta beliau memikul sendiri sekarung gandum dari gudang Baitul Maal untuk diberikan kepada keluarga fakir itu.

Seorang muslim sejati seyogyanya memiliki sifat malu, bijak, rendah hati dan peka terhadap perasaan orang lain. Dia tidak akan pernah melakukan perbuatan buruk apapun yang bisa menyakiti orang lain, dan tidak pernah lalai dalam menjalankan kewajibannya kepada orang lain dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya, jika rasa malu senantiasa tertanam di hatinya.

Sikap malu ini akan melindunginya dari segala kesalahan, tidak hanya karena dia merasa malu di hadapan orang lain, namun terutama karena dia juga merasa malu di hadapan Allah swt., dan takut akan “bercampurnya keimanan dan kesalahan.” (QS. Al-An’am 6 : 82).

Keterkaitan antara motif-motif dan keimanan kepada Allah dan hari kiamat ini membuat orang Islam senantiasa berdiri di hadapan orang lain dengan sikap rendah hati serta dengan selalu menjaga kualitas serta konsistensi etika dan moralnya, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun kondisi dan situasi yang dihadapinya.

Hal itu karena orang Islam, dengan mengidolakan dan mengambil suri tauladan akhlak mulia Rasulullah saw., harus terus menerus mengasah kepekaan, rasa malu dan kesadaran hidup yang tercermin dari rasa takut melakukan pengkhianatan kepada orang lain, terlebih-lebih merasa malu kepada Allah saw., yang Maha Mengetahui atas segala hal yang tersembunyi, daripada kepada manusia, yang hanya melihat penampilan lahiriyah.

Dan rasa malu inilah yang menjadi tanda jalan pemisah antara moral umat Islam dengan moral orang-orang non-muslim. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Sudi al-Fakir, 15 Januari 2003)

Referensi :
1. Menjadi Muslim Ideal, Dr.Muhammad Ali al-Hasyimi
2. Risalatul Qusyairiyah, Imam al-Qusyairy an-Naisabury
3. Cahaya Rasul, Danarto.

Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dialah ladang hatimu, yang dengan kasih kau taburi dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Kau menghampirinya di kala hati gersang kelaparan, dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa (Kahlil Gibran)

Tiga tanda kesempurnaan iman : Kalau marah, marahnya tidak keluar dari kebenaran. Kalau senang, senangnya tidak membawanya pada kebatilan. Ketika mampu membalas, ia memaafkan. (Sayidina Umar Ibn Khattab)

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya. Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. (Sayidina Umar bin Khattab)

Antara aku, “dia” dan kalung itu (Kisah Inspiratif)

Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar al-Anshari berkata, “Dulu, aku pernah berada di Makah–semoga Allah selalu menjaganya. Suatu hari aku merasakan lapar yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan laparku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera dan diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula. Ketika aku buka, aku dapatkan di dalamnya sebuah kalung permata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.”

“Kemudian, aku keluar rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, ‘Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata.’ Aku berkata kepada diriku, ‘Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini kepadanya.’ Maka, aku membawanya ke rumahku. Setibanya di rumah, dia menceritakan kepadaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, cirri-ciri permata dan jumlahnya, berikut benang yang mengikatnya. Maka, aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya, dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi aku tidak mau mengambilnya. Aku katakan kepadanya, ‘Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu.’ Ternyata dia bersikeras, ‘Kau harus mau menerimanya,’ sambail memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tidak mau menerima. Akhirnya, bapak tua itu pun pergi meninggalkanku.”

“Adapun aku, beberapa waktu setalah kejadian itu, aku keluar dari kota Mekah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut perahu tumpangan itu pecah, orang-orang semua tenggelam dengan harta benda mereka. Tetapi aku selamat dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut, tak tahu ke mana hendak pergi.”

“Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di dalam salah satu masjid mereka sambil membaca ayat-ayat Alquran. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, tidak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang kepadaku dan mengatakan, ‘Ajarkanlah Alquran kepadaku.’ Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak. Di dalam masjid aku menemukan bebarapa lembar mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, ‘Kau bisa menulis?’ ‘Ya’. Mereka berkata, ‘Kalau begitu, ajarilah kami menulis.’ Mereka pun datang dengan anak-anak dan para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu, aku juga mendapat banyak uang. Setelah itu mereka berkata, ‘Kami mempunyai seorang putri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?’ Aku menolak. Tetapi, mereka terus mendesak, ‘Tidak bisa, kau harus mau.’ Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga.”

“Ketika mereka membawa anak perempuan itu ke hadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Mekah melingkar di lehernya. Tidak ada yang aku lakukan saat itu, kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata itu. Mereka berkata, ‘Sungguh kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya.’ Maka, saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. ‘Ada apa dengan kalian?’ kataku bertanya. Mereka menjawab, ‘Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini.’ Dia pernah mengatakan, ‘Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku.’ Dia juga berdoa, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku.’ Dan, sekarang sudah menjadi kenyataan.”

Sumber: http://zilzaal.blogspot.com/2012/02/antara-aku-dia-dan-kalung-itu-kisah.html

Nasihat Hasan al Basri kepada gadis kecil…

Setiba di pemakaman, Hasan al Basri melihat seorang gadis kecil itu memeluk makam ayahnya, pipinya diletakan di atas gundukan tanah sambil meratap-ratap.

Dari persembunyiannya Hasan selalu mengikuti apa yang dilakukan gadis kecil itu, dan ia mendengar apa yang diucapkannya.

“Ayah,malam ini engkau terbaring sendirian dalam kegelapan kubur, tanpa lampu penerangan dan penghibur. Jika malam kemarin aku masih bisa menyalakan penerangan untukmu. Tapi sekarang siapakah yang menerangimu dan siapa pula yang menghiburmu?. Ayah, malam kemarin aku masih bisa menggelar tikar untuk alas tidurmu, tapi sekarang siapakah yang menggelarkan tikar untukmu?. Jika malam malam kemarin aku masih bisa memijati tangan dan kakimu, sekarang siapakah yang memijatimu?” terdengar memilukan ratap gadis kecil itu. Hasan yang mendengarkan dari tempat persembunyian menjadi trenyuh

“Ayah, jika kemarin malam aku menyelimuti tubuhmu, tetapi sekarang siapakah yang menyelimutimu tadi malam,” kembali terdengar suara gadis kecil itu di antara isak tangisnya.”kemarin engkau masih bisa memanggilku ayah dan aku menjawab untukmu, tetapi semalam siapa yang engkau panggil dan siapa pula yang menjawabmu?’.

“Ayah, jika kemarin engkau minta makan dan aku yang melayani, apakah semalam kau minta makan ?, dan siapa pula yang melayanimu?. Dulu aku selalu memasak makanan untukmu, tetapi kemarin siapa yang memasak untukmu?”.

Karena tak tahan mendengar ratapan-ratapan mengharukan gadis kecil di atas makam ayahnya, Hasan al Basri keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekati gadis itu, tak terasa air matanya menetes jatuh karana haru.

“Anakku, janganlah kau berkata seperti itu”, kata Hasan al Basri setelah berupaya menenangkan hati gadis kecil itu. “Seharusnya kau ucpakan kata-kata seperti ini: Ayah, kau telah kukafani dengan kain kafan yang bagus, masihkah kau memakai kain kafan itu?. Dan kata orang shaleh, bahwa kain kafan orang yang telah meninggal dunia ada yang diganti dengan kain kafan surga dan ada pula yang dari neraka. kain kafan mana yang ayah kenakan sekarang?”.

“Ayah, kemarin kemarin aku telah meletakkan tubuhmu ang segar bugar dalam kubur, masih bugarkah tubuhmu hari ini?”
Gadis kecil itu terus saja mendengar apa yang dicontohkan Hasan tanpa henti.

“Ayah, orang-orang alim mengatakan bahwa semua hamba besok ditanya tentang imannya. Di antara mereka ada yang bisa menjawab, tetapi ada juga yang cuma membisu. Yang kupikirkan, apakah ayah bisa menjawab atau hanya membisu?.

“Ayah, katanya bahwa kuburan itu bisa dibuat luas atau sempit. Bagaimana kuburan ayah sekarang, bertambah luas ataukah bertambah sempit?. Dan kuburan itu merupakan secuil taman dari surga, tetapi bisa juga merupakan sebuah lubang dari neraka. Yang menjadi pikiranku, bagaimana kuburan ayah sekarang? . Taman surga ataukah lubang neraka?”.

“Ayahku, katanya bahwa liang kubur itu bisa menghangati mayat dengan memeluknya seperti pelukan ibu pada anaknya, tapi bisa juga merupakan lilitan erat yang meremukkan tulang-tulang. Bagaimana keadaan tubuh ayah sekarang?. Jangan-jangan ayah terhimpit lubang kubur”.

Ayah, orang shaleh mengatakan , orang yang dikebumikan itu ada yang menyesal, mengapa dulu semasa hidupnya tak memperbanyak amalan bagus, justru menjadi pendurhaka dan banyak bermaksiat. Apakah ayah termasuk yang menyesali karena perbuatan maksiat atau menyesal karena sedikit melakukan amal kebaikan?.

“Ayah, dulu setiap kali aku memanggilmu engkau selalu menjawab, tapi kini kau kupanggil-panggil tak lagi mau menjawab. Kini engkau telah berpisah denganku, dan tak akan berjumpa sampai hari kiamat. Semoga Allah tak menghalangi perjumpaanku denganmu”.

Demikianlah beberapa nasihat Hasan al Basri yang disampaikan pada gadis kecil itu dalam meratapi kematian ayahnya.

“Sungguh baik nasihat bapak, aku sangat berterima kasih sekali,” kata gadis kecil itu.

“Maka berdoalah nak untuk orang tua mu bukan kau ratapi”.

Kemudian Hasan Basri mengajak gadis itu pulang meninggalkan makam ayahnya. —

SEBUTIR KORMA PENJEGAL DO’A

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.
Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.
“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.
“Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar.

Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “Empat bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya ibrahim.
“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”.

Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.
“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas namakan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”
“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”
“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Oleh sebab itu mari kita berhati-hati dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…Wallahu a’lam…