Pesta Demokrasi

Ada pesta hari ini… katanya

Namun tak kujumpa pengantin bersanding

Juga anak sunat yang bertongkat

Tiada pula penganan atau sekadar minuman

Tuk meredam dahaga diterik surya

Cuma ada setumpuk kertas berlipatlipat

Panjang dan lebar sekali ternyata

Pesta ini 5 tahun sekali… katanya

Setelah mereka berpamer diri

Menjual janji dengan berbagai atraksi

Dalam kemaruk meraih kursi

Ini pesta demokrasi… katanya

Bismillah…

Kuambil 4 tumpuk kertas warna warni

Menuju bilik suara yg sekadarnya

Karena memang selalu minim biaya

Padahal milyaran bahkan trilyunan uang dihamburkan

Yang dibayar rakyat melalui pajak negara

Tapi…siapa yang akan kucontreng?

Tatkala tak satupun kukenal dan kuketahui jejak rekam mereka?

Bismillah…

Seorang muslim harus memilih saudaranya yang seiman

Jika lelaki paling tidak dia berkopiah atau berpeci haji

Jika wanita paling tidak dia caleg yang berhijab

Sebab golput takkan menyelesaikan masalah

Namun apa simbul dan tanda lahiriyah menjadi jaminan?

Terserah saja!

Itu tanggung jawab mereka kepada rakyat dan Tuhannya

Smoga mereka masih punya takut di hadapan pengadilan yaumil akhir

Ketika tidak ada lagi hakim yang bisa dibeli

Manakala semua anggota badannya bersaksi

Pada pesta demokrasi tahun ini

Selalu ada harapan dan penantian

Semoga mereka amanah

Membawa rakyat ke kampung gemahripah loh jinawi

Tata tentram karta raharja

Jawad Satuju – (Catatan Pileg 9 April 2009)

4 responses to “Pesta Demokrasi

  1. Pak tepat sekali kata-2 yang ada dalam puisi ini, halus tetapi bermakna dalam. Sebaiknya puisi ini di publish di koran ibu kota agar masyarakat membaca, agar yg berebut jabatan sadar (Insya Allah) betapa pesta yang triliunan rupiah ini hanya dibawah satu persen (< 1%) yang benar-2 menyentuh rakyat. Susah mengeluarkan uang bagi kepentingan mendasar rakyat banyak, tetapi mudah mengeluarkan uang untuk kepentingan yang lebih beraroma berebut kekuasaan.

    • Sekadar refleksi suara hati & jiwa yang tidak tersalurkan dalam lembaga, institusi dan forum resmi demi menyaksikan hingar bingar para elite politik negeri tercinta dalam Pemilu. Mudah2an tujuannya demi maslahat dan kesejahteraan rakyat banyak…tapi apa benar dan tulus? sebab pemerintahan dan pemimpin negeri datang dan pergi silih berganti, namun sebagian besar rakyat negeri ini masih hidup dalam kesusahan & kemelaratan.

  2. Baru di launching nih pak … dalam kesederhaan pemikiran dan kata2nya.. puisi ini jadi enak dan ngalir sekali pak.

    • Iya Fan, terlupakan, pdhl udah dibikin duluan dari yg sudah published sebelumnya. Bgt pulang nyontreng lsg nulis2..eh malah terselip. Ya memang saya alirkan seadanya tdk pakai narasi yg indah2…Tks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s