HORMAT DAN SAYANGILAH ORANG TUA KITA

“Semoga terhina, semoga terhina, semoga terhina, siapa yang mendapatkan kedua ayah bundanya atau salah satunya sampai tua, kemudian ia tidak masuk surga” (HR. Muslim)


Harapan Hari Tua


Kalau boleh memilih, semua tentu tak ingin menjadi tua. Manusia takut menjadi lemah, kulit keriput dengan tubuh yang terbungkuk, ditambah mata rabun dan pendengaran yang hilang-timbul. Jika ada pilihan lain, siapa yang sudi menerima kondisi tak berdaya, ingatan sering kosong tak bisa menerka apapun, dan selalu membutuhkan orang lain untuk memenuhi keperluannya?


Tatapan mata tua, berselaput kabut putih dengan kelopak yang kerut-merut serta mulut yang ompong mungkin tak asing bagi kita, karena ia adalah orang terdekat kita sendiri. Dulu mata itu begitu cemerlang, tangannya yang kuat meninabobokkan kita dengan alunan suara yang melenakan. Kita tertidur, lalu terjaga dalam senyumnya. Tak ada keluh kesah, tak ada rasa untung rugi mendapati semua waktunya tersita oleh ketidak berdayaan kita.


Tak pernah terbayangkan bahwa suatu saat ia butuh perlakuan sama manjanya seperti kemanjaan kita. Tak pernah terbersit bahwa suatu saat buah hatinya akan gusar mendapati gelas pecah karena tangannya yang gemetar, jantung hatinya akan merutuk jika untuk kesekian kalinya ia mengulang pertanyaan yang sama. Tak pernah terlintas bahwa suatu saat nanti belahan jiwanya berharap ia segera pergi menemui sang pencipta, karena ia tak mampu lagi bahkan hanya untuk membuang kotoran sendiri.


Adakah saat-saat paling mengerikan dalam hidup manusia selain menjadi tua, rapuh, sendiri, dan tidak diharapkan? Apalagi yang lebih menakutkan selain keluarga yang dulu menjadi surga dunianya ternyata mengharapkan kebinasaannya hanya karena ia menjadi jompo yang tidak lagi punya manfaat apapun?


Umur panjang adalah harapan hampir semua manusia, tapi tua dan tak berdaya bukanlah dambaan siapapun. Sunatullah tak mungkin ditawar, bisa jadi suatu ketika kitalah yang akan mendapat gilirannya.


Tak ada satupun yang diharapkan sosok renta itu selain keikhlasan senyum dan perhatian dari kita. Keikhlasan menerima dirinya yang pelupa, sikapnya yang rewel, serta kemanjaannya yang melebihi bayi jauh lebih bernilai dibandingkan setumpuk uang dan makanan lengkap yang tersedia. Sepikun apapun, orang tua atau nenek kakek kita yang lanjut usia akan mampu membedakan mana anak yang ridho dan mana yang merasa terpaksa mengurusi dirinya.


Jangan Bete


Suatu hari khalifah ‘Umar ra. ditanya oleh seorang lelaki: “Sesungguhnya aku mengurusi ibuku seperti ketika ia mengurusiku waktu kecil. Apakah kewajibanku terhadapnya sudah tertunaikan?”. Khalifah ‘Umar ra. menjawab: “Tidak, sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau mengurusi dia dengan mengharapkan kematiannya”.


Tidak bisa dipungkiri bahwa sebesar apapun kebaikan kita pada orang tua, tidak akan mampu membalas budi baiknya. Karena ketulusan yang dimiliki ayah bunda tidak sama dengan ketulusan kita terhadapnya. Ketika tidur mereka terganggu karena tangis, ompol atau buang air besar kita di tempat tidur, mereka lawan kantuk dengan satu tujuan agar kita kembali nyaman dan tenang. Tapi apa yang ada di pikiran seorang anak ketika membenahi ompol atau kotoran orang tuanya yang sudah tak mampu bangun dari pembaringan? Tidak mengherankan jika banyak lansia di Eropa hidup hanya bertemankan seekor anjing, mereka lebih memilih tidak mempunyai anak karena menurut mereka anjing lebih setia dari seorang anak (naudzubillah).


Berbuat baik saja belum mampu membalas budi ayah bunda, apalagi jika diiringi dengan sikap kasar. Malu mempunyai orang tua yang berpenampilan buruk dalam kerentaannya, atau merasa enggan berinteraksi dengan mereka karena kerewelannya merupakan salah satu indikasi jauhnya kita dari syurga Allah. Abdullah bin Amr bin Al Ash ra. saja disuruh menunda hijrahnya oleh Rasulullah SAW karena kepergiannya mendatangkan tangis bagi kedua orang tuanya.


Lipat gandakan kesabaran menghadapi orang tua terutama yang berusia lanjut. Perilaku apapun yang kita persembahkan untuk beliau, pasti akan kita dapatkan pula di hari tua kita. Ujian berupa datangnya rasa kesal, bosan, ataupun lelah yang terus hadir dalam mengahadapi orang tua jika bisa ditanggulangi akan membuahkan kenikmatan yang tidak terbayangkan di dunia dan di akhirat. Sedangkan menyakiti mereka walau dengan kata singkat “Ah!”, akan mendatangkan hukuman Allah di dunia tanpa mengurangi azabNya di akhirat.


Rindu, Ingin Jumpa yang Tiada


Jika ayah bunda telah tiada, berkuranglah ladang amal yang bisa membawa kita ke syurga. Berkuranglah orang yang mampu memberikan doa makbul untuk kebaikan kita. Apakah kita sudah maksimal membalas jasa mereka? Banyak bahagia atau duka yang kita persembahkan? Adakah kita tuntun mereka untuk beribadah dan mengucapkan kalimat thoyyibah seperti laailahaillah, astaghfirullah, dll. sehingga memudahkan sakratul mautnya?


Sesal kemudian tiada berguna akan kealpaan diri ketika mereka telah tiada. Tak ada manfaat lagi ketulusan ketika mereka telah berpulang. Rindu yang tak tertahankan ingin menatap, mencium tangannya, atau bakti kepadanya mungkin hanya bisa kita lantunkan melalui doa, berharap Allah mengampuni dan menyatukan kita lagi dengan mereka di yaumil akhir.


Mari kita rengkuh orang tua kita jika mereka masih ada, taburkan cahaya kasih tanpa pamrih untuk mereka yang semakin senja. Tiada kebahagiaan selain perhatian dan bimbingan dari anak yang soleh. Jika mereka tiada, salati mereka, mohonkan ampun, lunasi janji atau hutang mereka, pelihara silaturrahim dan muliakan kerabatnya. Niscaya Allah akan memuliakan kita ketika usia senja kita tiba.


Jawad Satuju, 23 Dzulhijjah, 1426 H.

2 responses to “HORMAT DAN SAYANGILAH ORANG TUA KITA

  1. Terima kasih sudah sharing pak,
    Kembali saya “no comment” pak, karena ngak sempat melakukan apa-apa yang terbaik dari kemandirian kepada Bunda. Kadang ngiri melihat teman-teman sekampung ngajak Ibu-Bapa ke tempat-tempat yang luar biasa dengan bangganya pak. Kadang sedih dengar mereka dikunjungi, bahkan anak-anak juga sering sedih karena ndak bisa diajak liburan ke rumah kakek-nenek nya. atau dikunjungi oleh neneknya.
    Berbahagialah mereka yang masih punya orang tua yang bisa dibahagiakan dengan kemandirian yang sudah diperolehnya dari kasih orang tua.

    • Bang dari yg saya tangkap komentarnya, timbul pertanyaan saya…apakah abang sudah ditinggal ibu ketika kecil/remaja (piatu) sehingga blom sempat membahagiakan bunda? Gimana dengan bapak, smoga msh ada ya, atau bahkan sdh yatim-piatu pula? Tulisan ini ditujukan terutama bagi yang ortu-nya msh ada, dan kita sbg anaknya sudah mampu untuk membahagiakan mereka. Mampu disini tidak melulu memberikan kecukupan “materi” namun sekadar mengunjunginya (kalo mrk di kampung), bhakti & bersimpuh takzim dihadapannya selagi ada kesempatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s