Mengingat Kematian (Zikrul Mawt)

“Sekian lama aku menunggu…untuk kedatanganmu…” terdengar dering telepon genggamku yang menggunakan ring backtone lagu “Menunggu” yang dinyanyikan Ridho Irama. Seketika tanganku sigap merogoh ke saku dan mengeluarkan handphone Nokia N-70 jadulku dan meminta kawan pairing golf-ku untuk melakukan putting lebih dulu.

Ups, ternyata istriku menelepon. “Pak, golf-nya masih lama yCalon Mayat Esok Haria? Ibu mau kasih tahu kalau pak Kamil tetangga kita sekarang sedang sakaratul maut. Tolong kasih tahu juga adik sepupunya ya, ibu gak tahu nomor hand-phone-nya…” tuturnya terbata-bata.

Sejenak aku terperangah. Walaupun aku sudah bisa menerka-nerka kalau usia tetanggaku itu tidak lama lagi karena sakitnya yang sudah parah, tetap saja rasa kaget itu menyeruak. Apalagi beberapa hari terakhir ini, setiap aku keluar masuk rumah dari kegiatan sehari-hari tampak rumah yang persis behadap-hadapan itu selalu ramai dikunjungi kerabatnya.

Sebenarnya hal ini juga pernah terjadi pada ibuku. Sakit tua yang menderanya membuatnya semakin tidak berdaya, meskipun beliau sudah sangat pasrah menanti panggilan-Nya. Masih hangat dalam ingatanku, beberapa hari setelah masuk rumah sakit, itupun karena kupaksa lantaran tidak tega melihat sakitnya, ibuku meninggal dunia dengan tenang dan damai. Begitu pun dengan ayahku, dua tahun setelah ibuku wafat, beliaupun menyusul berpulang ke rahmatulloh. (Robbighfirli waliwalidaya warhamhuma kama robbayani soghiro).

Banyak cara makhluk menghadap Robbnya. Sikap yang berbeda pula ditunjukkan dalam menghadapinya. Ada segolongan manusia yang merindukan segera bertemu dengan Tuhannya, namun banyak juga yang setengah mati takut dan menghindarinya.

Menghadapi sakaratul maut ibarat seorang siswa yang akan menghadapi ujian. Siswa yang cerdas tentu mempersiapkan jauh-jauh hari, sehingga pada saatnya dia menjalani ujian dengan tenang. Berbeda dengan siswa yang malas, dia baru belajar menjelang hari H, atau malahan tidak belajar sama sekali. Apa yang terjadi? Kedua-duanyanya menghadapi ujian dengan perasaan yang berbeda. Tentunya dengan hasil akhir yang berbeda pula.

Rasulullah pun pernah mengingatkan sahabatnya akan sebuah penyakit yang sering menghinggapi manusia. Penyakit itu bernama Wahn. Kalau dalam teks bahasa nabi yang disebut wahn adalah hubbud dunya wakaroiyatul mawt, terlalu mencintai dunia dan takut mati. Ya, sangat masuk akal. Ketika kita menyukai sesuatu biasanya kita cenderung takut akan kehilangannya. Agama mengajarkan unsur keseimbangan (tawazun), raihlah dunia maupun akhirat. Makanya orang-orang dahulu begitu mendawamkan doa sapujagat. Robbana atina fiddunya hasanah, wafilakhiroti hasanah, waqina adzab bannar. Inti doa itu meminta kebaikan di dunia dan akherat dan diselamatkan dari azab neraka.

Semenjak lebaran menjelang, rasanya berita duka cita kerap menghampiri ponselku. Beberapa sahabat, keluarga dekat, keluarga jauh dan tetangga satu RT meninggal mendahuluiku. Banyak di antaranya dengan umur yang sebaya, ada yang berumur lebih tua namun sebagiannya bahkan jauh lebih muda dariku. Tidak sengaja juga aku lihat berbagai berita kecelakaan di TV, korban berjatuhan menimpa mudikers akibat kecelakaan sebelum dan pasca lebaran. Belum lagi ratusan korban bencana alam, banjir, longsor dan terakhir gempabumi yang menimpa Tasikmalaya dan Padang. Ya…kabar pagi ini juga semakin menambah deretan panjang berita duka cita di ponselku.

Kematian manusia adalah suatu keniscayaan dan sudah merupakan sunatulloh yang cepat atau lambat akan datang menghampiri kita. Imam Ghazali memberikan tausiyah kepada murud-muridnya bahwa SESUATU yang paling dekat dengan manusia adalah kematian. Pertanyaannya, sudahkan kita siap menyambutnya dengan tersenyum gembira karena kita sudah mempersiapkan bekal jauh-jauh hari sebelumnya? Semoga…

CALON MAYAT ESOK HARI

Lihatlah !
Betapa ramainya perhelatan
Alangkah riuhnya perjamuan
Laki-laki dan perempuan
Beradu dan bercampur liar
Di diskotik, di hotel dan di café
Bahkan di kuburan…!

Lihatlah!
Pesta kenduri, dansa-dansi dan dugem ria
Dibawah gemerlap kemewahan dunia
Di tengah jerit tangis si miskin yang kelaparan
Apakah mereka sedang mensyukuri gelimang dunia penuh sesat?
Atau hari kematian yang semakin dekat?

Lihatlah!
Yang sibuk menumpuk harta
Dengan komisi dan korupsi membabi buta
Yang mabuk kepayang berhalusinasi dengan ekstasi
Yang mereguk nafsu sahwat sesaat berujung dengan aborsi
Yang berkuasa dengan segala cara
Berperut gendut jidat mengkilat
Penuh penganan haram dan subhat…

Wahai sanak dan kerabat
Apakah engkau tidak ingat
Tatkala mengantar mayat-mayat hari ini ke pekuburan
Adalah sesungguhnya engkaulah
Calon mayat-mayat esok hari…

——————————NS———————————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s