Dana Deposito Di Bank Syariah : Wajibkah Dibayarkan Zakatnya Dua Kali?

Assalamu alaikum wr.wb
Ustadz, apakah jika uang (pokok) kami ditabung/diinvestasikan di Bank Syariah dalam bentuk deposito (mudharabah) juga wajib dibayarkan zakat maalnya? Yang saya pernah pelajari, karena sifat deposito syariah adalah produktif, khususnya yang berjangka waktu panjang (satu tahun) diqiaskan sama dengan kita berinvestasi untuk usaha semisal perdagangan atau pertanian, maka modalnya (yang bergerak) tidak termasuk dalam hitungan zakat, kecuali keuntungan dari hasil usaha itu. Apakah benar? Jazakumullah khairon katsiro.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
H. Nana Sudiana, SE
Jl. Wadas I/7, Kav. BNI Jatiwaringin,
Pondokgede, 17411.

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Ada pendapat yang mengatakan seperti yang Anda tanyakan, yaitu selain kewajiban membayar zakat dari keuntungan deposito syariah, juga ada kewajiban membayar zakat dari pokoknya sebagai harta simpanan. Logika pendapat ini adalah bahwa harta yang didepositokan itu adalah harta simpanan sekaligus juga harta yang digunakan untuk modal dagang. Sebagai harta simpanan, maka harta itu disamakan dengan simpanan semacam emas dan perak, yaitu bila telah mencapai jumlah seharga 85 gram emas (nishab) dan telah berlalu satu tahun hijriyah (haul), wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 % dari total nilai harta itu. Disisi lain, harta yang didepositokan secara syariah itu pada hakikatnya adalah merupakan bentuk kerja sama dengan pihak lain. Misalnya deposito itu di bidang usaha perdagangan, maka bila di dalam perdagangan itu telah tercukupi syarat-syarat yang mewajibkan zakat, wajiblah dikeluarkan zakatnya. Syarat-syaratnya seperti bila modal bergeraknya (di luar asset) telah mencapai nishabnya yaitu seharga 85 gram emas dan telah berjalan selama setahun. Begitu juga bila deposito untuk usaha pertanian dan sebagainya, maka untuk semua jenis usaha itu wajib dikeluarkan zakat sesuai dengan aturannya.

Namun dalam logika pendapat ini, kita menemukan terjadinya dualisme zakat pada harta yang sama. Yaitu sebuah harta dikenakan zakat dua kali, karena dianggap harta simpanan dan di sisi lain dianggap sebagai zakat usaha. Logika seperti ini meski didukung oleh tokoh semacam Dr. Didin Hafidudin (baca : Panduan Zakat Bersama Dr. KH. Didin Hafiduddin hal. 80 Penerbit Republika), namun bukan berarti sepi dari kritik. Yaitu bagaimana mungkin sebuah harta yang sama dikenakan dua kewajiban zakat sekaligus ? Sebagai zakat harta simpanan dan juga sebagai zakat usaha. Padahal pada hakikatnya uang itu memang diputar untuk usaha, misalnya dagang. Uang itu tidak tersimpan atau tertimbun sebagaimana emas dan perak yang kena zakat bila ditimbun. Harta itu sebenarnya diputar atau dipinjamkan secara mudharabah atau secara transaksi islami yang lainnya kepada pihak lain. Buktinya, pemilik deposito itu tidak bisa sewaktu-waktu mengambil uangnya bila belum tunai masa depositonya. Dan itu artinya bahwa hartanya itu tidak disimpan atau ditimbun, melainkan sedang bergulir untuk usaha. Jadi bagaimana mungkin harta yang tidak tertimbun itu harus dikeluarkan zakatnya ? Dengan jenis zakat apakah harta yang sedang bergulir itu masih ingin dikeluarkan zakatnya lagi selain memang dengan zakat perdagangan ? Ulama kaliber dunia dan pakar dalam masalah zakat yang bukunya menjadi rujukan banyak kalangan dalam zakat, Dr. Yusuf Al-Qaradawi menentang pendapat yang mewajibkan zakat ganda seperti ini. Dalam Fiqhuz Zakah nya pada jilid 1 halaman 259 (naskah bahasa arab) beliau mengatakan bahwa mewajibkan dua kali zakat pada harta yang sama adalah DILARANG SECARA SYARA’. Yang lebih benar adalah kita harus memilih salah satu saja, apakah harta deposito itu mau dikenakan zakat simpanan atau zakat usaha. Tidak boleh bayar zakat dua kali seperti yang Anda tanyakan itu. Kami sendiri lebih cenderung kepada pendapat Qaradawi karena memang lebih logis dan lebih adil serta sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :
Tidak ada kewajiban membayar zakat secara ganda (dua kali) (HR. Abu Ubaid di dalam Al-Amwal hal. 275 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf hal. 218)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Pusat Konsultasi Syariah
Office: T.B. Simatupang 12 A Lenteng Agung Jagakarsa Jakarta Selatan Indonesia
Telp. (62-21) 78847267 fax. (62-21) 78847268

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s