DAMPAK NAFSU AMMARAH PADA SIKAP HIDUP MANUSIA

Dalam kontek ini, yakinilah wahai salikin bahwa kehidupan dunia adalah sekedar sandiwara Allahul Rabbul ‘Alamin semata! Yang dimaksud dengan sandiwara Allah adalah tidak sama dengan pengertian sandiwara yang ada di sisi manusia. Sebagai bukti, bahwa hidup adalah “sandiwara-Nya” ialah  Ia menciptakan alam semesta serta penghuninya, kemudian dilengkapi dengan turunnya petunjuk yang menjadi undang-undang, sekaligus sebagai titian hidup setiap makhluk ciptaan-Nya. Sangat tampak pada “Takdir” alias ketetapan baik maupun buruk diikhwal perjalanan hidupnya. Maka dari jenis bangsa manusia atau bangsa Jin yang disebut baik ialah yang menerima petunjuk-Nya tanpa luput dari realisasi. Di sisi lain akan disebut buruk bila membantah dan mengingkari petunjuk-Nya.

Selanjutnya, barangsiapa yang menerima dan patuh kepada peraturan-peraturan-Nya, telah tersedia baginya “Kanzun Ni’mah”—perbendaharaan ni’mat— atau yang disebut Jannah (Syurga). Tetapi, barangsiapa yang menentang peraturan-peraturan-Nya telah tersedia pula “Kanzul Azab”—perhimpunan siksa— atau yang disebut Jahannam (Neraka). Maka dalam masalah ini, dapatlah kita simpulkan : “Bagi barangsiapa yang mendapat petunjuk baik dari Allahul Hadi, tidak ada satupun makhluk yang dapat menghalangi. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, tidak ada satupun makhluk yang bisa meluruskannya—memberi petunjuk—“.

Walau pada hakekatnya dalam masalah ini tidak ada satupun dari bangsa makhluk yang memohon kepada Allahul Rahman untuk diadakan. Namun, Ia tetap mengadakan serta memberinya “Ilham” petunjuk kebaikan maupun kesesatan. Perhatikanlah khabar tentang kisah Iblis, setan serta pengikut-pengikutnya. Yang diciptakan hanya untuk menerima kesesatan dan sebagai penghuni Neraka Jahannam kekal abadi. Kemudian perhatikan pula khabar keberadaan para Rasul-Nya dan pengikut-pengikutnya yang diturunkan ke bumi untuk menerima petunjuk baik seiring penjabarannya mereka akan ditempatkan sebagai penghuni Jannah yang kekal abadi!.

Yang perlu sekali diperhatikan di sini ialah keadaan hidup setiap makhluk-Nya yang tidak dapat kekal hidup di alam nan fana ini. Dan ikhwalnya tidak tetap pada suatu tempat kehidupan, walau sekejap sekalipun. Yang ada ialah selalu berubah-ubah, tidak pasti pada suatu kepastian yang abadi. Karena pada yang sebenarnya, sesuatu apapun selain diri-Nya tidak tetap, bahkan akan sirna terkikis oleh perjalanan waktu yang menyelimutinya.

Begitu pula hal ikhwal kehidupan manusia, yang tidak abadi dalam meniti kehidupan alam nyata (dunia). Suatu misal, pada mulanya tidak ada, kemudian ada dan hidup. Setelah hidup, merasakan manis maupun pahitnya kehidupan datang silih berganti hingga satu saat menemui ketetapan akhir hidup yaitu “Mati”.

Setelah menyimak pengertian keberadaan hidup dan kehidupan makhluk-makhluk-Nya. Marilah kita melihat dan perhatikan, perjalanan hidup manusia penghuni planet bumi—terutama yang jiwanya dikuasai oleh Nafsu Ammarah–! Maksudnya, agar kita dapat mengambil pelajaran sebagai bahan studi perbandingan.

Perhatikanlah wahai para salikin!

Seluruh makhluk yang bernyawa khususnya manusia, berlalu-lalang menelusuri lorong-lorong bumi untuk mencari sumber kehidupan atas tuntutan kebutuhan hidup. Namun sebahagian manusia tidak pernah merasa puas dengan pendapatan yang sedikit! Memang, sudah menjadi tabi’at manusia yang selalu tidak puas dengan sesuatu yang serba sedikit. Itulah fitrah manusia!

Ketahuilah wahai para salikin!

Harta benda itu dapat menyiksa seseorang lahir maupun batin, berlebih bagi orang-orang yang mencari harta benda dengan cara melanggar norma-norma dan etika manusiawi tanpa menengok janji syurgawi di ukhrowi. Lain hal orang yang mencari serta menyalurkan harta bendanya dengan hak pada yang berhak, sehingga dapat menikmati bahkan menjadi kebaikan hidup lahir maupun batin. Yang dimaksud kebaikan hidup lahir maupun batin adalah hartanya dapat dijadikan bekal untuk meniti kehidupan hingga mencapai Mardhotillah (ridla Allah).

Ketidak puasan dalam urusan jasmani, hanya ada bagi orang yang jiwanya telah dikuasai Nafsu Ammarah bersifat binatang buas. Nafsu Ammarah-lah yang selalu mewarnai jalan pikirannya, sehingga kecintaan serta ambisi untuk memiliki dan menguasai sesuatu yang serba banyak menghantui pandangan hidupnya.

Bila kita memperhatikan kehidupan manusia dalam Ma’isyah, terutama pada orang yang dikuasai Nafsu Ammarah berbusana sabu’iyyah, tampak watak serakah, loba dan egois sebagaimana layaknya sifat hidup binatang buas.

Sering kita jumpai sikap hidup manusia yang menduduki singgasana nan bermahkota. Mayoritas tidak mampu mengendalikan gejolak Nafsu Ammarah berbusana sabu’iyyah, yang selalu mengajak berbuat tidak adil pada saat menentukan kebijaksanaan hukum-hukum atau peraturan-peraturan yang telah disepakati dalam musyawarah. Maka dampaknya, muncul di sana-sini peraturan-peraturan jompo yang serba mandul bahkan tidak segan-segan untuk mengebiri segala bentuk hukum dan undang-undang. Semua itu dilakukan hanya untuk mencukupi kehendak hawa nafsu yang ingin menghimpun harta benda sebanyak mungkin, tanpa melihat kiri dan kanan teman maupun Tuhan. Itulah manusia bersifat Sabu’iyyah! Ingatlah, bahwa piranti kehidupan hanya sebagai uji-coba ikhtiar manusia, dari sifat  buruk ke sifat baik atau sebaliknya. Maka bagi yang hidupnya telah dipengaruhi Nafsu Ammarah berbusana bahimiyyah atau sabu’iyyah, kehidupan mereka tidak ubahnya semacam sifat binatang ternak maupun buas !

Manusia yang telah dikuasai oleh Nafsu Ammarah berbusana bahimmiyyah atau sabu’iyyah itu akan tampak pada jalan pikiran, pendengaran, pengelihatan dan gerak langkahnya yang selalu menjurus kepada kemaksiatan belaka. Di sisi lain mereka selalu tidak memperhatikan, mendengarkan dan melihat kebesaran Allahu Akbar. Mereka benar-benar sudah lalai dan melalaikan karunia-Nya. Maka orang yang semisal itu, dinamai dan di juluki oleh AllahulAdli sebagai binatang, bahkan derajatnya lebih rendah lagi dari binatang. Sebagaimana firman-Nya menyatakan .

“Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati (akal), tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan uuntuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih  sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” Surat Al-A’raaf : Ayat 179 (7 : 179).

Hidup manusia

berpijak pada putaran neraca
melangkah ikut alun cerita
di atas hamparan permadani dunia
hingga kembali ke alam baka
tanpa terasa
meliuk tergoda
harta
tahta
wanita
nan menata derita
tertipu bisik nafsu di jiwa
pohon sabu’iyyah berakar ammarah
tumbuh subur pada ladang jiwa manusia
daun-daun ikhtiar
memenuhi setiap jengkal tangkai
mekar bunga cinta kasih
bertaburan menghiasi
bergelantungan buah takdir Illahi
kian indah sempurna
tumbuh subur pohon nan rindang
tak selang lama
daun-daun berguguran
bunga berhamburan
buah berjatuhan
tangkai kering kerontang
kini pohon mulai layu
beradaptasi alam
tak kenal tunda menunda
masa selalu silih berganti
mempengaruhi kehidupan
dari bersemi hingga layu
kemudian bersemi
lalu layu
selanjutnya bersemi
terus dan terus menerus
berkelanjutan hidup
dalam kehidupan
setiap makhluk-Nya
ketetapan-Nya
tampak pada cermin
perjalanan alam
maupun isinya
yang selalu tidak menetap
pada suatu tempat abadi.

Mayoritas manusia sadar bahwa hidup di alam nyata adalah tidak kekal abadi, bahkan sifatnya hanya sementara. Dan percaya bahwa setelah melalui kehidupan alam fana akan menghadapi satu alam kehidupan yang berada di luar dimensi alam konkrit yaitu akhirat! Tetapi, banyak manusia yang tidak mampu menjabarkan kesadaran serta keyakinannya, sehingga tidak tampak tumbuh secara menyeluruh pada pandangan hidupnya. Karena jalan pikirannya masih tertutup oleh awan hitam Nafsu Ammarah bersifat sabu’iyyah. Yang menutup “Iman” penyinar lembah akal hingga gelap gulita menyelimuti tujuh bukit anggota sujud.

Bila kita menghayati keberadaan manusia diturunkan ke muka bumi yang pada awalnya tidak mengetahui sesuatu apapun. Kemudian Allahur Rahman menjadikan; telinga tempat mendengar, mata tempat melihat dan akal tempat mempertimbangkan penalaran hukum. Mestinya manusia bersyukur kepada-Nya dengan sebab memperhatikan kejadian dirinya. Namun karena tabiat manusia yang sering kali lalai dan selalu tergesa-gesa dampak penguasaan Nafsu Ammarah maka sangat sedikit sekali manusia yang bersyukur pada-Nya. Yang dimaksud lalai dalam masalah ini adalah pada sifat manusia yang apabila mendapatkan suatu kenikmatan hidup, lalu ingkar kepada yang memberi nikmat hidup. Namun apabila manusia merasa terjepit dalam menghadapi masalah hidup, seraya terlunta-lunta datang mendekati-Nya. Beruntun mengalun gema munajat (doa), yang terukir paduan kalimat “hidup sejahtera”, berjanji tidak dusta untuk berusaha menjalankan perintah ilahi tanpa ditunda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s