Pesona Dunia

Saat dunia datang menawarkan pesonanya, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok.
Sebagian ada yang dengan tamak melahap pesonanya, hingga hati, akal dan jasadnya tercancang pada tiang magnet dunia. Jika mengambil kamus percintaan istilahnya sedang “di mabuk kepayang” sehingga lupa diri lupa sembahyang.

Sebagian lagi ada yang tak peduli sama sekali, bahkan merasa muak dan bersegera pergi menjauh karena menganggapnya sebagai perintang jalan menuju keutamaan ukhrowi. Golongan manusia semacam ini biasanya menjauhkan diri dari hingar bingar dunia dan hidup dengan sangat bersahaja penuh kezuhudan dan sebagian besar aktivitasnya adalah melaksanakan ibadah vertikal kepada Sang Maha Pencipta.

Sebagian lagi ada yang bisa bersikap secara proposional, yakni mencicipi bagiannya atas nikmat dunia, namun tetap berjejak langkah menuju keutamaan akhirat. Dengan kata lain, nikmat dunia tidak ia tolak, namun senantiasa disyukuri seraya tidak melupakan hubungan vertical dan horizontal – hablumminallah dan hablumminannas. Bagaimana dengan kita?

Pesona dunia memang luar biasa. Kebanyakan manusia masuk dalam kelompok pertama, apalagi di zaman sekarang ini, zaman yang serba instant termasuk dalam mencari kekayaan, karena pengaruh faham hedonisme produksi negeri-negeri “Barat” yang kapitalis liberalis. Apa saja “diembat” agar cepat menjadi kaya dan bersenang-senang dengan kelezatan dunia. Jangankan manusia-manusia akhir zaman, bahkan manusia-manusia utamapun, yakni para penghulu Badar yang mulia, nyaris terjerat hatinya oleh pesona ghanimah (harta rampasan perang) yang terpampang di depan mata. Sebagian sahabat yang berhasil mengusir dan memukul mundul pasukan kafir Quraisy dari medan pertempuran merasa paling berhak mendapat bagian atas harta tersebut. Kelompok sahabat yang berada di garis belakang dan mengumpulkan ceceran harta tersebut, juga merasa paling berhak. Ada pula kelompok sahabat lain, yang bertugas menjaga keselamatan Rasulullah Saw, yang merasa paling berhak.

Secara khusus, catatan sirah juga menceritakan tentang rasa sedih dan kecewa yang menggayuti hati Saad Bin Abi Waqas. Dalam peperangan tersebut, saudaranya syahid. Saad berhasil membunuh pembunuhnya dan mengambil pedang miliknya. Saat ia menceritakan halnya pada Rasulullah, beliau memerintahkan Saad untuk meletakkan pedang tersebut bersama harta ghanimah lain yang belum dibagi. Wajarlah, jika hati Saad kecewa dan masygul. Sudahlah saudaranya terbunuh, tak jua ia dizinkan memiliki harta rampasannya.

Apa yang kemudian terjadi? Kasak-kusuk sahabat membuahkan turunnya wahyu. Allah Swt memberikan jalan penyelesaian yang cepat, tepat dan menenangkan buat semua. Katakanlah: Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul, sebab itu bertaqwalah pada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesamamu. Dan taatlah pada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman (Al Anfal:1)

Demikian luar biasanya pesona dunia. Entah ia datang ke hadapan kita sebagai hasil keringat, kerja keras dan banting tulang, datang sebagai hadiah dan hibah oleh sebab interaksi sosial politik, datang sebagai rezeki dari arah yang tidak kita duga (rezeki nomplok atau harta karun, kata orang), atau datang sebagai berkah karena hasil dakwah dan jihad di jalan-Nya, atau melalui jalan lain yang beraneka ragam.

Sebenarnya, tidak penting darimana ia datang, tapi bagaimana kita menyikapi kedatangannya yang mempesona tersebut dengan tetap berpegang kepada “tali agama” yaitu petunjuk al-Qur’an Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, jika kita ingin selamat dunia akhirat.

Para sahabat Nabi SAW yang saya ceritakan tadi sempat berselisih soal dunia, namun mereka bersedia menyikapinya dengan iman, dengan taat dan dengan tunduk pada ketentuan Allah Swt dan Rasul-Nya, sehingga tidak lagi menimbulkan persoalan hati diantara mereka. Kita pun akan atau tengah diuji dengan datangnya pesona dunia: sanggupkah kita menundukkan hawa nafsu dibawah kendali iman? Wallahu a’lam bish-shawab. (Sudi al-Fakir)

Jatiwaringin, 12 Ramadhan, 1423 H.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s