KEUTAMAAN SALAT JUM’AT

Kita semua mengetahui bahwa hari Jum’at hari raya kaum yang mengimani Allah dan Muhammad sebagai rasul-Nya. Ia merupakan hari yang mulia. Allah swt. menjadikan hari itu untuk kaum muslim. Pada hari Jum’at ada suatu saat yang tidak diketahui ; jika seorang muslim kebetulan sedang berdoa kepada Allah swt. pada saat itu, tentu Allah akan mengabulkan doanya.

Shalat Jum’at hukumnya wajib, sebagaimana firmanNya dalam Surah Al Jum’ah ayat ke 9 :
“Apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Itulah sebabnya, kita harus selalu mempersiapkan diri untuk menyambut setiap datangnya hari Jum’at dengan membersihkan pakaian, menyucikan asma Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa pada kamis sore, sebab kamis sore itu saat yang sama baiknya dengan saat-saat yang tak diketahui di hari jum’at. Berniatlah berpuasa pada hari Jum’at, namun berpuasalah juga pada hari Sabtu atau Kamis, sebab puasa hanya pada hari Jum’at dilarang.

Bila fajar menyingsing, cucilah keseluruhan tubuh kita, dari Abu Sa’id Khudri r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :

“Mandi hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (yakni baligh).” (Hadits Shahih Bukhari).

Kata ‘diharuskan’ atau wajib disini bermakna sangat ditekankan (dalam Syariat Islam). Lalu pakailah busana yang rapi dan bersih, lebih diutamakan yang berwarna putih, sebab hal ini paling disenangi Allah swt. gunakanlah wewangian terbaik yang kita miliki. Bersihkanlah tubuh kita dengan mencukur rambut kepala, memotong kuku, bersikat gigi, memakai wewangian harum dan lain-lain, sebagaimana hadits :
Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. berkata: Saya bersaksi atas Rasulullah saw. beliau bersabda: “Mandi pada hari Jum’at itu wajib atas setiap orang yang dewasa, mencabut (bulu ketiak atau mencukur rambut dan juga rambut kemaluan) dan menyentuh (memakai) minyak harum jika ada.” (Hadits Shahih Bukhari 844)

Berpagi-pagilah pergi ke masjid, dengan berjalan tenang dan tidak tergesa-gesa. Rasulullah saw. bersabda :

“Barang siapa pergi (ke masjid untuk salat jum’at) pada awal waktu, maka seolah ia menyerahkan seekor unta kepada Allah. Barang siapa pergi pada waktu kedua, maka seolah ia menyerahkan seekor sapi kepada Allah. Barang siapa pergi pada waktu ketiga, maka seolah ia menyerahkan seekor biri-biri jantan kepada Allah. Barang siapa pergi pada waktu keempat, maka seolah ia menyerahkan seekor ayam kepada Allah. Barang siapa pergi pada waktu kelima, maka seolah ia menyerahkan sebutir telur kepada Allah. Bila imam tampil (untuk berkhutbah), maka lembar-lembar catatan tergulung, pena-pena diangkat, dan para malaikat (yang menuliskan nama-nama orang di atas lembaran-lembaran itu) berkumpul di dekat mimbar mendengarkan pujian bagi Allah (yang diucapkan oleh sang imam).

Diriwayatkan bahwa dekatnya manusia dengan Allah di kala memandang wajah suci Allah SWT ( di surga) sesuai dengan keberpagi-pagiannya pergi ke masjid untuk shalat Jum’at.

Apabila kita telah memasuki masjid, ambillah tempat pada shaf pertama. Jika jamaah telah berkumpul, janganlah melangkahi leher-leher mereka dan jangan berlalu di depan mereka ketika mereka sedang berdoa atau salat. Ambillah tempat di dekat dinding atau pilar sehingga orang tak berlalu di depan kita. Janganlah kita duduk sebelum kita menunaikan salat tahiyyat masjid, sebagaimana nas-nas tentang ke-sunnah-annya berikut ini.

Jabir r.a. mengatakan, “Ada seorang masuk ke masjid pada hari jum’at sedang nabi saw. berkhutbah dan ia langsung duduk, maka ditanya oleh Nabi saw., “Apakah kamu telah shalat? Jawabnya, “Belum”. Maka Nabi saw. bersabda: “Berdirilah dan shalatlah dua rakaat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Ibrahim bin Abdullah r.a. berkata, “Seorang laki-laki dating dan Nabi saw. sedang berkhutbah kepada para manusia pada hari Jum’at. Beliau bersabda: “Apakah kamu telah shalat, hai Fulan? Dian menjawab: “Tidak”, maka beliau bersabda: “Berdirilah dan shalatlah !.” (Hadits Shahih Bukhari 894).

Bila imam sedang menuju mimbar untuk berkhutbah bersama dengan dikumandangkannya adzan, maka janganlah menunaikan salat sunah apapun (kecuali shalat tahiyyat masjid) dan jangan berbicara sedikitpun apalagi ngobrol, tetapi jawablah seruan sang muadzdzin, dengarkanlah khutbah sang imam dengan khusuk dan terimalah nasihatnya.

Khutbah jum’at merupakan salah satu rangkaian dalam ibadah jum’at, dan sangat menentukan sah dan tidaknya ibadah itu. Masih ada di antara kita yang datang ke masjid untuk shalat Jum’at persis ketika khatib/imam selesai berkhutbah. Padahal, sahnya shalat Jum’at kita adalah apabila kita mendengarkan khutbah dengan khusuk dari awal hingga akhir sampai selesainya pelaksanaan shalat Jum’at dua rakaat. Maka mendengarkan khutbah sama nilainya dengan dua raka’at shalat Dzuhur. Atau, masih ada sebagian di antara kita yang datang lebih awal ke masjid, namun tetap asyik berkata-kata (ngobrol) dengan teman duduk di sebelahnya bahkan ketika telah dikumandangkannya adzan ke dua dan ketika imam sudah naik mimbar memberikan khutbahnya. Kita dapat menyimak penegasan Nabi Muhammad saw. :

“Apabila kamu berkata kepada temanmu, ‘diamlah !’ pada hari Jum’at, sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh kamu telah sia-sia (jum’atmu).” (HR Muslim)

Ibnu Abbas ra. Mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang berbicara pada hari Jum’at diwaktu imam berkhutbah, maka ia bagaikan himar yang membawa kitab, dan orang yang mengingatkannya dengan kalimat “dengarkanlah”, keduanya tidak mendapatkan pahalanya jum’at (shalatnya sia-sia)” (H.R. Ahmad. Dan hadits ini menerangkan haditsnya Abu Hurairah r.a. di dalam shahih Bukhari dan Muslim).

Pentingnya mendengarkan khutbah jum’at bisa disimak pula dalam rangkaian hadits yang mengaitkannya dengan ampunan dosa. Nabi bersabda :

“Tidaklah seorang lelaki mandi pada hari jum’at, membersihkan diri dengan kebersihan yang ia mampu, dan berminyak dari minyaknya atau mengusap/memakai minyak wangi rumahnya, kemudian ia pergi ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, kemudian dia salat apa yang telah ditetapkan baginya, kemudian dia diam mendengarkan imam ketika berbicara/berkhutbah, kecuali diampuni baginya dari jum’at itu sampai jum’at yang lain.” (H.R. Al-Bukhari).

Seusai salat dan sebelum berbicara, bacalah surah Al-Fatihah, surah Al-Ikhlas, dan dua surah untuk berlindung kepada Allah, masing-masing tujuh kali. Hal ini akan menyelamatkan kita dari salat Jum’at ke salat Jum’at, dan akan melindungi kita dari gangguan setan. Setelah ini, berdo’alah :

“Ya Allah, Yang Kaya, yang terpuji, yang esa, yang mencipta dari awal dan kemudian mengulangi penciptaan, duhai yang maha pengasih lagi penyayang, cukupilah aku dengan halal, hindarkanlah aku dari yang haram, jadikanlah aku orang yang taat kepada-mu, limpahkanlah aku keutamaan dari-mu, dan jauhkanlah aku dari yang selain-mu.”

Seusai salat Jum’at, tunaikanlah dua, empat atau enam rakaat salat sunah. Kesemuanya ini biasa dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam berbagai keadaan.

Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda: “Jika seseorang telah shalat jum’at, maka hendaknya shalat sunah sesudahnya empat rakaat”. (H.R.Muslim).

Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Rasulullah saw. ketika menceritakan tentang hari jum’at beliau bersabda: “Di dalam hari jum’at itu ada suatu saat kalau seorang muslim bertepatan pada saat itu dia shalat untuk meminta sesuatu kepada Allah pasti diberiNYA. Tetapi saat itu sangat sebentar”. (H.R.Bukhari dan Muslim).

Banyak berdoa di kala matahari terbit, tergelincir dan tenggelam pada hari jum’at, di kala iqamat shalat jum’at, di kala khatib naik ke atas mimbar, di kala orang berdiri untuk shalat ; boleh jadi saat-saat mulia yang digambarkan di atas berada pada salah satu dari saat-saat ini.

Pada hari jum’at ini berupayalah untuk bersedekah semampu kita, meski sedikit, yang terpenting adalah dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena mengharapkan ridho Allah swt dan bukan karena ingin mendapatkan pujian orang lain (riya’). Lakukanlah segala jenis ibadah dan kebajikan seperti shalat sunah, berpuasa, bersedekah, membaca Al-Qur’an, memuji Allah swt., ber-I’tikaf di masjid.

Jadikanlah hari Jum’at, salah satu hari raya kaum muslim ini khusus untuk beramal saleh yang Insya Allah akan membahagiakan kita di akhirat dan sebagai hari pertaubatan atas dosa-dosa di masa lalu dan pencanangan niat kita untuk menjadi orang yang lebih beriman dan bertaqwa pada hari-hari berikutnya.

Wallahu a’lam Bish-shawab.

Jatiwaringin, 24 Muharram 1426 H
(Sudi al-Fakir)

Referensi :

1. Koreksi Total Ritual Shalat – karya Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman
2. Fadhail A’mal – karya Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandhalawi rah.a.
3. Tarjamah Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam – karya Ibnu Hajar Al Asqalany, diterjemahkan oleh Ustad Salim Bahreisy dan Drs.Abdullah Bahreisy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s