Waspada dan Berjalanlah Terus Saudaraku

Saudaraku,

Sebuah peristiwa menggembirakan, jika tidak diwaspadai, kerap membawa ancaman yang membahayakan. Sebuah peristiwa yang menyenangkan jika tidak disikapi secara benar, bisa membawa larut kita dalam rantai peristiwa yang menyakitkan. Dahulu, kaum Ad, umat Nabi Hud as, disebut sebagai masyarakat yang makmur. Perekonomian mereka berkembang pesat. Gedung-gedung sudah terbangun megah. Para penduduknya dilukiskan sebagai orang-orang yang cantik dan tampan. Namun mereka mengabaikan aspek ubudiyah kepada Allah. Mereka hidup berfoya-foya dan menyombongkan kemewahan. Nabiyullah Hud mengajak mereka untuk mensyukuri kemakmuran itu dengan beribadah pada Allah. Mereka menolak. Mereka lebih mempercayakan hidupnya pada berhala. Sampai kemudian datang musibah. Hujan sama sekali tak turun. Sungai dan sumur mengering. Ladang-ladang menjadi kering kerontang. Tanaman dan hewan ternak mati. Hud kembali mengajak mereka menyembah Allah dan berdo’a kepadaNya. Tapi mereka tetap menolak dan lebih mengagungkan berhala.

Lalu tibalah gumpalan awan hitam. Nabiyullah Hud melihat awan itu sebagai pertanda akan datangnya bencana. Namun mereka justru menganggapnya sebagai awan yang akan mengucurkan hujan dari langit. Mereka bersuka cita, menduga berhala telah mengabulkan permohonan mereka. Gumpalan awan hitam itu ternyata badai gurun atau awan panas yang menyapa kota, selama tujuh hari tujuh malam. Kemakmuran kota kaum Ad tidak berbekas. Peradabannya punah. Sementara Nabiyullah Hud dan pengikutnya kemudian menetap di wilayah yang kini disebut Hadramaut. Di Timur kota Hadramaut itulah diyakini Hud dimakamkan.

Saudaraku,

Kisah Nabiyullah Hud dan kaum Ad mengajarkan betapa fana kemakmuran dunia yang kita hidup di dalamnya. Kita ternyata memang merasa lebih mudah goyang oleh kesenangan dan kemakmuran hidup. Kita memang lebih gampang terbius dengan ketenangan, kebahagiaan, kemapanan, kekayaan, kenikmatan.

Maka kekhawatiran dan kewaspadaan di saat senang, harusnya lebih besar kita rasakan ketimbang kita melewati saat sulit. Kita harus lebih merasakan kegelisahan saat kehidupan berjalan normal, tenang, nyaris tanpa hambatan. Kegelisahan seperti inilah yang disabdakan Rasulullah saat menjelaskan “wa quluubuhum wajilah” (dan hati-hati mereka dalam kondisi takut) dalam surat Al Mu’minun ayat 60. Rasul mengatakan, “Mereka adalah orang yang mengerjakan puasa, mengerjakan shalat dan bersedekah, tapi ia takut amal itu tidak diterima.”

Kita diarahkan untuk menghimpun antara kebaikan amal dalam kekhawatiran dan prasangka buruk terhadap kita sendiri. Tidak tertipu dengan berprasangka baik terhadap diri sementara banyak keburukan yang kita lakukan.

Saudaraku,

Mari lebih waspada, justru saat melakukan banyak amal-amal shalih dan ketaatan. Rasakanlah getar-getar hati yang tersembunyi, saat kita mulai merasakan cukup dan puas dengan amal-amal yang sudah kita lakukan. Karena sejatinya, kita memang tak pernah tahu kualitas dan penilaian amal kita di sisi Allah SWT. Karena bisa saja, kita terjajah oleh penguasaan syaitan di dalam hati yang terus menerus membius kata-kata ‘cukup’ dan ‘baik’ untuk amal-amal kita itu.

Saudaraku,

Ketakutan dan kegelisahan adalah bagian dari napas kehidupan yang harus kita miliki. Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menguraikan 3 bentuk napas itu, yakni ketakutan, napas-napas harapan dan napas-napas cinta. Napas ketakutan sumbernya mengetahui apa ancaman dan janji Allah bagi orang yang lebih mementingkan dunia dari akhirat, yang lebih mementingkan makhluk dari Khalik, yang lebih mementingkan nafsu daripada petunjuk. Napas harapan sumbernya mengetahui janji dan berbaik sangka pada Allah, melihat apa yang dijanjikan Allah pada orang yang lebih mementingkan Allah, RasulNya dan hari kiamat, dan menjadikan petunjuk sebagai hakim bagi hawa nafsu, menjadikan wahyu sebagai hakim bagi pendapat. Napas cinta sumbernya memperhatikan asma dan sifat Allah, menyaksikan dan merasakan serta mensyukuri nikmat dan karunia Allah.

Saudaraku,

Ibnul Qayyim mengilustrasikan hal lain dalam proses perjalanan seorang hamba menuju Allah. Seseorang, katanya, harus memiliki sifat seperti seekor burung. Mahabbah (cinta kepada Allah) adalah kepalanya, sedangkan khauf (takut) dan raja’ (harapan) sebagai kedua sayapnya. Bila kepala dan kedua sayapnya sehat, maka burung itu termasuk burung yang bagus terbangnya. Artinya, seseorang yang memiliki kecintaan yang baik dengan sifat khauf dan raja’ yang seimbang, akan dapat berjalan menuju Allah dengan baik.

Bila seekor burung tak memiliki kepala, berarti burung itu akan mati. Orang yang tak memiliki rasa cinta kepada Allah, maka hidupnya sama dengan kematian. Ia tak memiliki energi kehidupan karena hidupnya ada di bawah kendali nafsu dan ikatan makhluk yang bisa mengarahkannya ke manapun. Dan itulah kematian yang sesungguhnya.

Sedangkan seekor burung yang tak memiliki sayap yang seimbang, maka ia tidak mampu terbang dengan baik, dan akan sering jatuh. Maksudnya, tanpa sikap takut dan harap, seseorang tidak akan mampu menjalani peran-peran hidup yang harusnya ia lakukan. Tenaganya akan terkuras, tanpa hasil, dan akhirnya berhenti ditengah jalan meninggalkan gelanggang kehidupan, tanpa amal.

Saudaraku,

Mari lanjutkan perjalanan kita. Waspadailah segala ketenangan di jalan ini. Berhati-hati dengan berbagai kemudahan yang kita temui di sini. Ada banyak fatamorgana yang bisa menipu kita. Ada banyak bisikan yang menyesatkan kita.

Berpegang tanganlah Saudaraku,

Kita akan melanjutkan perjalanan ini…

Sumber: Majalah Tarbawi, Edisi 100 Th. 6/Dzulhijjah 1425 H/ 20 Januari 2005 M


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s