Peti Mati

Ada musibah menimpa sebuah desa nelayan. Dari mulut ke mulut, penduduk desa mendapat kabar kalau salah satu perahu nelayan dirampok. Dari kabar itu juga, nelayan yang bernasib malang itu tidak cuma dirampok. Tapi, disiksa kemudian dibunuh.


Seorang nelayan yang baru tiba dari laut mengabarkan, mayat nelayan yang dibunuh dibiarkan membusuk hingga beberapa hari. Sang nelayan juga memberitahukan, perahu berisi mayat busuk itu kabarnya sudah akan merapat di pantai desa.


Sontak, warga desa gempar. Mereka tampak gelisah. Bisa dibayangkan, kayak apa bau anyir yang akan mereka rasakan. Belum lagi kemungkinan adanya penyakit. “Hiii…,” seorang ibu tua spontan menutup hidung.

Namun, di balik rasa takut bau itu, mereka juga penasaran. Mereka ingin tahu seperti apa kesadisan para perampok. Seperti apa bentuk mayat yang sudah dibiarkan membusuk beberapa hari itu.
Hampir seisi desa tampak berkumpul mengelilingi pantai. Mata mereka tertuju pada sebuah perahu yang ditarik sebuah perahu yang lebih besar. Lambat tapi pasti, muatan perahu yang diderek itu mulai jelas. Ada peti besar terikat di sana.

Semakin dekat, peti itu kian jelas. Penduduk desa yang hadir menutup hidung rapat-rapat. “Bau, ya?” ucap seorang bapak spontan. Dan, yang lain pun tampak mengangguk.
Entah dengan kekuatan apa, seorang yang dikenal kepala desa mengambil peti dan memanggulnya di atas pundak. Sedikit pun tidak merasa jijik, apalagi menutup hidung. “Hi, dasar jorok!” ucap seorang ibu sambil menjauh.

Tiba-tiba, sang kepala desa berdiri di tengah kerumunan. Peti yang semula dipanggul, diletakkan di atas tanah yang berpasir. Dan, terbentuklah lingkaran manusia. Semua tetap menutup hidung.
“Saudara-saudara, kenapa kalian menutup hidung. Apa yang bau?” ucap sang kepala desa terheran-heran. Tapi, tak seorang pun menyahut. Dan tak seorang pun yang melepas tangannya dari menutup hidung. “Baiklah, akan saya buka peti ini!” suara kepala desa sekali lagi. Suara riuh pun terdengar dari balik kerumunan.

Betapa terkejutnya para penduduk desa. Ternyata, isi peti itu cuma beberapa lembar pakaian, sepasang sandal, dan sebuah lampu kapal. “Kalian terpedaya. Mayat saudara kita itu sudah dilarung ke laut. Peti ini hanya berisi peninggalan sang mayit untuk diserahkan ke keluarganya,” ucap sang kepala desa meyakinkan.

***
Dalam masyarakat tradisional, kadang komunikasi tidak berjalan semestinya. Orang pun hidup dalam bayang-bayang praduga dan prasangka. Kadang, kebencian bisa lahir tanpa sebab. Banyak sekali fenomena yang terjadi di sekitar kita dengan muatan anarkisme akibat berita “burung” yang belum tentu benar.

Sahabat, kita memang tak perlu menjauh dengan tipe masyarakat seperti ini. Apalagi, mencaci dan menghina. Yang kita butuhkan adalah mengambil pelajaran. Karena boleh jadi, tanpa sadar, kita ikut memberi andil menghidupkan pola buruk seperti itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s