Muhaimin Iqbal, penggerak solusi krisis dengan dinar

Para sahabat yang dimuliakan Allah Azza wa Jalla,
Pak Iqbal ini tahun 90-an sampai 2000-an adalah sahabat saya juga di industri perasuransian. Secara usia merupakan junior saya, namun ilmu, inovasi dan kecermerlangan otaknya luar biasa. Beliau benar-benar seorang profesional dalam bidangnya ketika menggeluti asuransi umum, kemudian asuransi syariah (takaful insurance), ekonomi Islam dan sekarang bergerak dalam instrumen investasi Dinar & Dirham – sebagai perwujudan dari “hijrahnya” secara totalitas untuk menjadi muslim yang kaffah. Sebagaimana Note saya tentang “Adab-Adab & Etika Muslim”, saya juga Insya Allah akan menurunkan berbagai artikel beliau tentang Dinar & Dirham pada khususnya dan Ekonomi Islam umumnya, dalam upaya untuk memperkuat ketahanan ekonomi ummat Islam. Bukankah seorang muslim yang kuat dan kaya lebih disukai oleh Allah dan Rasul-Nya? Semoga.

Wassalam,
Sahabatmu (Sudi al-Fakir)

Tidak banyak orang yang bisa secara totalitas keluar dari zona kenyamanan untuk mengembangkan suatu produk yang diyakini bisa menjadi solusi mengatasi krisis dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Apalagi disaat tengah menduduki puncak karir di suatu perusahaan. Namun kesungguhan untuk memantapkan diri menjadi keyakinan utama dalam ber’hijrah’ dari suatu posisi ke tempat yang diyakini memiliki makna lebih baik.

Muhaimin Iqbal – atau akrab dipanggil Iqbal, demikianlah beliau disapa. Mengundurkan diri dari jabatan Presiden Direktur Asuransi Bintang Tbk, pada bulan Mei 2008 untuk kemudian selanjutnya mengembangkan gerai dinar yang telah dirintis sejak desember 2007. Dikenal sebagai salah satu tokoh perasuransian nasional dan sudah mengabdikan diri di dunia asuransi sejak tahun 1987. Mengawali karir sebagai underwriter, kemudian menjadi Direktur Teknik & Pemasaran antara tahun 1996-2000, menjadi Direktur Asuransi Tugu Pratama, sampai akhirnya diberi kepercayaan sejak Juli 2006 oleh RUPS untuk memimpin Asuransi Bintang,Tbk. Tak lama kemudian diangkat menjadi ketua umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI).

Selama berkarir sebagai PresDir Asuransi Bintang, banyak prestasi yang sudah digurat beliau. Inovasi yang dilakukan antara lain produk Pulsa Bintang Syariah, yakni produk asuransi syariah yang bisa diisi ulang seperti halnya pulsa seluler, sehingga sangat memudahkan nasabah. Produk kartu tabungan berasuransi, Ta’awun card idaman yang bersinergi dengan Bank Muamalat Indonesia dan Panin Life Syariah. Selain itu, dibawah kepemimpinannya sebagai Ketum AASI, pertumbuhan asuransi syariah meningkat sampai 40% sepanjang tahun 2007.

Namun, itu semua ditinggalkannya karena beliau melihat ada amanah yang lebih besar dalam mengembangkan ekonomi syariah yang seutuhnya. Ada kata yang perlu digaris bawahi yakni seutuhnya. Lantas bagaimana dengan sistem perbankan syariah maupun syariah ataupun produk-produk finansial berbasis syariah lainnya?

Seperti halnya suatu masalah suatu krisis, beliau melihat akar masalah atau root cause problem. “Sistem ekonomi yang berkembang selama ini, atau produk perbankan konvensional bisa disebut sebagai riba”, kata beliau. Bukan bunga bank saja ya riba, namun bank konvensional itu disebut sebagai riba. Bahkan menurut beliau, sistem ekonomi syariah yang selama ini berkembang di asuransi, perbankan ataupun pembiayaan (financing) belum bisa sepenuhnya sesuai dengan prinsip syariah islami.

Belum sesuainya perbankan syariah disebutkan karena semua sistem ekonomi ataupun keuangan yang ada di kita adalah berbasis uang kertas atau fiat money.Inilah bentuk penjajahan ekonomi baru, dimana ternyata uang kertas yang selama ini kita gunakan, entah itu rupiah, dollar, euro atau yen ternyata tidak sepenuhnya dijamin oleh sesuatu yang riil. Dengan kata lain, uang kertas itu benar-benar ‘kertas’ yang ditulis dengan sejumlah angka dan dinyatakan sebagai pembayaran sah oleh pemerintah bersangkutan.

Atas dasar itulah, beliau berusaha mengembangkan kembali solusi dinar sebagai solusi riil untuk ketahanan ekonomi umat.”Mata uang emas adalah mata uang yang bertahan selama lebih dari 14 abad atau 1400 tahun, sedangkan sistem mata uang kertas belum mencapai 100 tahun, tapi sudah didera krisis finansial berkali-kali” lanjut beliau. Dengan berbekal pengetahuan di bidang finansial, asuransi selama lebih dari 20 tahun, maka Iqbal memberanikan diri untuk terjun secara totalitas dalam mengembangkan dinar.

Ketika beliau ditemui penulis, di kediamannya yang asri di bilangan kelapa dua, depok, awal Desember lalu, Iqbal mengatakan memasarkan dan mengembangkan dinar ini seperti melawan arus. Memang pada awalnya, dinar di indonesia dipelopori oleh Gerakan Murabitun Nusantara. Namun sejak awal pengembangannya mulai tahun 1999, belum sanggup memenuhi permintaan dinar yang cenderung meningkat melalui wakala-wakala yang ada di indonesia. Di tangan Iqbal, setelah mempelajari kesulitan maupun kelemahan yang ada dalam pengembangan dinar selama ini, ditangani melalui metode yang lebih baik dengan terutama mengembangkan Gerai Dinarnya baik melalui situs gerai dinar maupun melalui kerjasama-kerjasama dengan asuransi syariah, lembaga pembiayaan, properti maupun solusi investasi syariah bernama iQirad.

Secara antusias, dalam pembicaraannya dengan penulis, beliau mengatakan banyak hal-hal yang tidak diungkapkan ke khalayak umum mengenai kondisi keuangan moneter indonesia. Sebagai contoh, cadangan emas bank sentral (BI) yang sedianya digunakan untuk menopang uang rupiah kita ternyata telah menurun secara drastis dari 96 ton menjadi sekitar 73 ton. “ Ini hanya terlihat dari neraca keuangan BI, bahwa ternyata 23 ton emas telah dijual untuk melunasi utang LN indonesia. Sayangnya anggota legislatif tidak ada yang perhatian terhadap hal ini” kata beliau. Menurut Iqbal, cadangan emas suatu negara menentukan kekuatan riil ekonomi negara tersebut. Ada korelasi positif, yakni negara yang dekat dengan ‘kapitalis’ amerika, maka cadangan emasnya cenderung rendah bahkan ada yang nol alias simpanan mereka ada dalam bentuk dollar. Sedangkan negara yang tidak dekat atau bertolak belakang dengan amerika, maka cadangan emasnya akan tinggi. Inilah yang secara cerdik dilakukan Cina. Dibandingkan negara-negara lain dalam mengatasi krisis, Cina secara diam-diam meningkatkan cadangan emasnya, dan diperkirakan pada tahun 2009 akan mencapai 4000 ton emas atau lebih besar dari cadangan emas IMF. Kecilnya cadangan emas indonesia, merupakan salah satu indikator lemahnya kekayaan negara maupun mata uang rupiah kita. Dengan nilai emas 22 K 1 gramnya sekitar 280 ribu rupiah (30 des 2008), maka dibutuhkan cadangan emas 22 K sebesar hampir 2000 ton untuk menggantikan seluruh uang rupiah yang beredar!. Dengan kata lain, uang rupiah kita hanya dilindungi secara riil dengan 1% cadangan emas yang tersedia. Seandainya uang kertas rupiah terus beredar, maka nilainya baru akan mencapai nilai riil setelah berkurang sampai 1% atau merosot sampai 99% !

Kuatnya nilai dinar bisa dibuktikan secara sederhana. Menurut Iqbal, harga kambing/domba ukuran sedang sejak jaman Nabi (abad 6 M) sampai sekarang (abad 20) berkisar 1 dinar. Selama 14 abad, ternyata nilai kambing itu tetap, dan dinar tidak mengalami inflasi sama sekali alias 0%. Penulis waktu membeli kambing untuk qurban tahun 2000, harganya sekitar 200 ribuan ukuran sedang. Sedangkan harga kambing tahun 2008, harganya sudah mencapai 1.2 juta untuk yang ukuran sedang (25-30 kg). Cepat sekali naiknya, sekitar 25% per tahun. Nah inilah realita mata uang kertas rupiah kita, kata Iqbal. Harga kambing sebenarnya tidak berubah selama 1400 tahun. Tapi tidak demikian halnya dengan uang kertas, baik rupiah atau dollar. Dengan kecenderungan harga kambing yang naik sekitar 23.3% pertahun, maka harga kambing yang sekarang sekitar 1.2 jt rupiah, dalam 5 tahun akan menjadi 3.4 jt rupiah dan 40 tahun lagi akan menjadi 5.22 milyar rupiah !!. Tentu harga tersebut terjadi selama masih digunakannya uang kertas rupiah. Cukup dengan rumus finansial sederhana FV=PV*(i+1). Ketika penulis masih kecil, masih ingat harga kambing masih 13 ribu rupiah. Tentu gak kebayang hampir 30 tahun kemudian harga kambing sudah mencapai 1.2 jt rupiah, tetapi memang inilah kenyataan yang terjadi.

Sekarang, sudah banyak yang menderita akibat korban inflasi. Bapak-bapak, mertua atau orangtua kita yang sudah lebih dahulu memasuki usia pensiun, mendapati bahwa uang pensiun yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan hidup sekarang. Uang pensiun sekitar 1.5 jt ternyata hanya cukup untuk hidup sendiri, apalagi untuk menghidupi istri, anak atau tanggungan lainnya. Rupiah yang dikumpulkan menjadi tidak bernilai, karena andaikata upah meningkat 30x lipat, ternyata harga kambing telah meningkat 300x lipat.

Dengan gerai dinar yang dikembangkan, Iqbal mengharapkan masyarakat kembali dapat menikmati kesejahteraan dengan proteksi terhadap nilai ataupun penghasilan yang mereka peroleh. Pada dasarnya, investasi terbaik untuk melindungi nilai atau meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran adalah melalui asset riil, bisa melalui perkebunan, perikanan, peternakan ataupun dinar emas. Namun, berdasarkan ketentuan, beliau melarang menimbun emas, sesuai dengan petunjuk alquran dan hadits agar emas yang ada bisa beredar dalam perdagangan riil. Batasannya adalah nizab zakat emas atau sekitar 83 gram emas setara dengan 20 keping dinar.

Walhasil, gerai dinar sudah termasuk sukses mengembangkan dan mensosialisasikan dinar emas. Ribuan dinar emas sudah tersebar selama kurang lebih setahun terakhir, baik dalam bentuk fisik maupun diinvestasikan dalam Qirad. Kerjasama pun akan diperkuat dengan membuka cabang ataupun membuat skala yang lebih besar sebagai lembaga yang menaungi sistem asuransi, perdagangan, pembiayaan, pensiun atau pembayaran dengan dinar emas sebagai basisnya.

“Waktu yang akan membuktikan, apakah dinar emas atau uang kertas yang bertahan, biarlah masyarakat yang menilai. Saya akan terus berjuang dan bekerja untuk memasyarakatkan dinar emas ini” demikian Iqbal menutup pembicaraan. Insya Allah pak Iqbal.

Biodata

Nama : Muhaimin Iqbal

Tempat/Tanggal Lahir : Nganjuk, 16 Maret 1963

Pekerjaan : Direktur Pengelola GeraiDinar (2007 – sekarang)

Jabatan terdahulu : President Direktur Asuransi Bintang, Tbk (2006-2008)

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia/AASI (2006-2008)

Direktur Teknik Asuransi Tugu Pratama Indonesia (2000-2006)

Direktur Teknik & Pemasaran Asuransi Bintang Tbk (1996-2000)

Pendidikan : S1 Jurusan Agrikultur IPB 1986, berbagai pendidikan profesi asuransi di Inggris, Selandia Baru, Australia, Jerman dll.

Buku : Dinar Solution (2007) General Takaful Practice (2005), Takaful Solution (2005)


Sumber: http://ilmusdm.wordpress.com/2009/01/02/muhaimin-iqbal-penggerak-solusi-krisis-dengan-dinar/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s