SOPIR TAXI YANG SOLEH

“Turun di sini saja Mas, biar saya melanjutkan pulang ke rumah dengan naik taxi.” kataku kepada seorang Dirut sebuah perusahaan asuransi takaful yang mobilnya aku tumpangi sejak pulang dari kantor di daerah Mangga Dua.

“Jangan pak, biar saya antar bapak sampai rumah, nanti bapak kehujanan.” Jawabnya sambil memberi kode pada sopirnya supaya berjalan terus.

“Gak usah Mas, saya turun disini saja, banyak taxi kok. Lagian kalau mas ngantar saya sampai ke rumah  pasti ceritanya jadi lain. Katanya mau sholat maghrib berjamaah dengan anak istri di rumah? Daerah Cawang sampai Jatiwaringin di sore hari begini pasti macet.” kataku lagi meyakinkan.

Aku tidak ingin merepotkan, toh menumpang gratis sejak Mangga Dua sampai kawasan Kebon Nanas Jatinegara sudah sangat menghemat ongkos taxiku disamping bisa ngobrol panjang dengan sang Dirut di dalam kenyamanan Honda Accord-nya yang masih anyar.

Mengantarku sampai rumahku di bilangan Jatiwaringin bisa memakan waktu satu jam atau bahkan lebih di sore hari begini.  Memang akhir-akhir ini cuaca ibukota dan kota-kota penyangganya berubah-ubah. Di pagi dan siang hari panas terik terasa menyengat, sorenya tiba-tiba mendung tebal menyelimuti Jabodetabek dan sebentar kemudian turun hujan deras disertai gemuruh petir menyambar-nyambar.  Menurut para pakar cuaca ini menandakan adanya cuaca ekstrim karena pengaruh Global Warming. Tapi sore hari ini kelihatannya cuaca Jakarta cukup bersahabat, tidak terlalu mencekam, meskipun gerimis mulai turun. Maka sebelum mobil Honda Accord baru itu meluncur terlalu jauh, aku tetap minta diturunkan di kebon nanas saja.

“Bener nih pak? Saya khawatir bapak kehujanan nanti, lagian kelihatannya daerahnya kurang aman.” jawabnya lagi, terlihat agak ragu-ragu menurunkanku di tempat yang terkesan kurang “friendly” itu.  Tapi karena aku tetap memaksa turun, akhirnya dia mengalah juga.

“Hati-hati pak, langsung ambil taxi saja!” pintanya.

“Beres mas, memangnya mau cuci mata dulu? he..he..he..” jawabku sekenanya. Mobil Honda Accord yang masih mengkilap itu kemudian menepi, mendekati shelter di pinggir jalan by-pass itu, supaya aku bisa meneduh dari gerimis hujan sewaktu menunggu taxi untuk melanjutkan perjalananku.

Beberapa saat aku menunggu Taxi dengan berteduh di shelter karena gerimis turun semakin lebat, namun taxi biru yang kuinginkan belum juga muncul. Setiap bertugas ke kantor di Gedung WTC Mangga Dua itu, memang aku selalu naik taxi Blue Bird yang menurut orang cukup aman dan mudah dipesan melalui tilpon atau SMS.  Tapi jika mendadak seperti ini tentu tidak mungkin, karena harus pesan minimal dua jam sebelumnya. Gerimis turun semakin lebat saja, sedangkan orang-orang yang berteduh di shelter semakin banyak, hampir berdesakan. Cuacapun semakin gelap dengan gulungan awan yang hitam. Aku berpikir, taxi apapun asalkan cukup bersih dan punya alat pendingin udara, akan aku tumpangi.

Dari kejauhan terlihat taxi bercat putih, tidak terlalu bersih, mendekati shelter. Kulambaikan tanganku dan taxipun menepi di tepi jalan dekat shelter. Aku setengah berlari segera memasukinya. Kulihat sekilas sopir taxi tersenyum ramah dan ah…dia ternyata memakai peci haji putih yang sudah sedikit lusuh.

“Assalamu’alaikum Pak…selamat sore, bapak mau diantar kemana?.” Sapanya ramah, setelah aku duduk dengan baik di taxinya. Ternyata meskipun cat luarnya sudah kusam, di dalamnya cukup bersih dan apik, dan aku mencium lamat-lamat aroma wangi minyak arab “Hajar Aswad”. Mungkin sopir taxi berpeci haji itu yang memakainya.  Untaian tasbih terlihat digantung di kaca spion sebelah sopir.

“Wa’alaikumsalam mas, tolong antar saya ke daerah Jatiwaringin…lewat Cawang saja, gak usah naik flyover.” Kataku memberitahu sang sopir.

“Oh, baik pak…Jatiwaringinnya sebelah mana, melewati Ass’syafi’iyah?” tanyanya lagi.

“Nggak sampai sana mas, setelah keluar Tol Jatiwaringin, selepas jembatan dan Pos Polisi, belok ke kiri…gak jauh kok dari situ ke arah timur.” Jawabku.

“Ooh…disitu pak, dekat dong…sebelah mana masjid berkubah kuning pak?.” Tanyanya lebih lanjut. Aku tidak menyangka sopir taxi ini sudah tahu masjid kubah kuning di dekat rumahku. Pikiranku sedikit menerawang ke masa lalu, ketika selepas pensiun pada tahun 2002,  aku ikut cawe-cawe mendirikan masjid ini, masjid yang di idam-idamkan warga sekitar.  Betapa tidak, masjid lama tempat kami melaksanakan shalat berjama’ah telah terpisah jauh akibat pembangunan jalan tol.  Untuk menuju kesana, tidak bisa lagi dengan berjalan kaki, karena harus memutar jauh melalui jembatan tol Jatiwaringin. Dengan waktu hanya sekitar satu tahun setelah mendirikan Yayasan dan Panitia Pembangunan Masjid, masjid berlantai dua itu telah berdiri megah, dilengkapi alat pendingin ruangan. Masjid itu kemudian kami beri nama Masjid “Al-Abraar” atau kemudian sering ditulis dan disebut “Al-Abror”. Aih, lupa, aku belum menjawab pertanyaan sang sopir taxi tadi.

“Emm, maaf mas, jadi melamun…iya..iya mas…hanya beberapa rumah saja dari masjid kubah kuning itu. Kok sudah tahu mas, apa sering narik ke daerah Jatiwaringin?.” Tanyaku kemudian.

“Sering juga pak, malahan saya tahu ketika masjid itu sedang dibangun. Pernah juga beberapa kali shalat di Al Abror itu setelah selesai dibangun. Nyaman ya pak, ada AC-nya. Bapak pengurus masjid disitu?.”  Tanyanya lagi.

“Iya dulu, saya di Yayasannya, sebagai Bendahara, yah ikut cawe-cawe lah mas bangun masjid, cari dana, dan saya juga membentuk Panitia ZIS dan Wakaf. Alhamdulillah, keinginan kami mendapatkan ridlo dan kelancaran dari Allah. Tapi sekarang sudah regenerasi dan diteruskan oleh remaja masjid. Para sesepuh hanya mendukung dan membina dari belakang.” Jawabku agak panjang lebar.

“Subhanallah…semoga Allah Azza wa Jalla memberikan limpahan berkah dan pahala kepada bapak…dan menyediakan rumah yang indah di surga-Nya…Amiiin…!.  Tapi saya perhatikan ketika membangun masjid Abror itu tidak terlihat ada petugas yang meminta sumbangan di jalan, padahal itu jalan yang cukup ramai menuju pintu Tol kan pak?!.”

“Aamiiin…InsyaAlloh mas, makasih do’anya ya mas!. Soal itu, memang kami tidak melakukannya. Rasanya kok malu ya mas…disamping merepotkan masyarakat, bising dan bikin macet jalan, kita Lillahi Ta’Ala saja mas, Alloh kan Maha Kaya, masa kita meminta-minta di jalan untuk membuat Rumah-Nya? Itu pikiran kami saja, mungkin juga salah. Dan alhamdulillah hanya dalam waktu setahun, masjid sudah bisa digunakan shalat berjama’ah. Bangunan di bawahnya dibikin aula serba guna untuk masyarakat sekitar dengan uang sewa yang murah untuk acara khitanan atau pernikahan. Ketika kami membeli tanah di sebelah masjid seluas enamratus meter persegi untuk lahan parkir, kami menerbitkan sertifikat wakaf, dan alhamdulillah dalam waktu hanya tiga minggu dana untuk membeli tanah terkumpul.”Jawabku menjelaskan dengan panjang lebar.

“Subhanallah…benar sekali pak, Allah Maha Kaya jika kita benar-benar memohon dengan tulus kemurahan-Nya untuk tujuan yang baik, apalagi ini untuk membangun rumah ibadah. Kadang-kadang saya lihat, ada masjid yang bertahun-tahun nggak jadi-jadi, padahal setiap hari panitia minta sumbangan dengan spiker disetel kenceng-kenceng di siang bolong dan memacetkan lalulintas. Kadang-kadang saya sedih juga pak…apakah ummat Islam pada pelit atau panitia pembangunan masjid yang tidak amanah?.” Tanyanya lagi namun seolah tidak memerlukan jawaban. Terlihat wajahnya sedikit murung.  Sopir taxi yang soleh, pikirku.

“Wallahu a’lam bish-shawab. Sebaiknya kita ber-huznudzon saja, mas.” Jawabku singkat. Namun tiba-tiba dia berkata lagi dengan nada yang berhati-hati namun saya rasakan mengandung kebimbangan dan kesedihan yang mendalam. Seakan ada perang batin dalam hatinya yang perlu pelampiasan segera.

“Pak…mohon maaf sebelumnya, jika saya lancang mengatakan hal ini kepada bapak, tapi benar-benar saya sedang bingung pak…Saya ini dulunya juga marbot masjid di Kebayoran Lama pak. Tapi setelah menikah, karena tuntutan keluarga terpaksa saya harus cari uang lebih banyak. Pernah menjadi kuli bangunan, jualan es dorong ke kampung-kampung, jualan gorengan sampai akhirnya jadi sopir taxi sejak setahun yang lalu. Sisa setoran narik, alhamdulillah masih mencukupi kebutuhan keluarga, meskipun pas-pasan. Istri saya seorang mu’allaf, tapi alhamdulillah sekarang sudah menjadi muslimah yang solihah, malah sudah bisa mengajar ngaji anak-anak tetangga untuk nambah-nambah nafkah keluarga. Anak saya dua, perempuan semua, bahkan yang besar sudah mau masuk Madrasah Aliyah di bilangan Ciputat. Tapi pak…belum tentu saya bisa menyekolahkan dia lebih lanjut pak, kecuali….”

“Kecuali apa?.” Tanyaku penasaran memotong bicaranya.

“Emmhh…anu pak…kecuali saya tidak menyetorkan uang setoran taxi ini. Sudah tiga hari saya tidak setor hasil narik pak, saya dilanda kebingungan antara menyetorkan uang ini atau membayar uang pendaftaran dan sebagainya agar anak saya bisa melanjutkkan sekolah ke Aliyah.  Seminggu yang lalu anak saya pergi ke rumah neneknya dari pihak ibunya yang cukup kaya raya untuk meminta bantuan, kalau perlu ngutang.  Tetapi anak saya pulang dengan tangan hampa dan menangis tersedu. Menurut ceritanya, sang nenek mengatakan bahwa dia mau membantu memberikan semua biaya masuk sekolah menengah umum biasa, bukan sekolah Islam, bahkan neneknya bersedia membiayai kuliahnya sampai selesai, namun….” Dia menghentikan ceritanya beberapa saat.

“Namun kenapa mas?.” Kataku tak sabar.

“Emmh..namun neneknya memberikan syarat agar anak saya bersedia pindah agama seperti yang dianut neneknya.” Dia menghentikan ceritanya dengan ber-istighfar berulang kali.   Aku tercenung tidak bisa berkata-kata, rasa sedih ikut menyeruak dalam dada, sesak rasanya…dan buliran cairan bening menggenang di pelupuk mata.

“Mas, sebaiknya uang setoran hasil narik itu segera disetorkan ke perusahaan, menurut saya tidak boleh  hukumnya untuk melakukan kebaikan didapat dengan jalan yang tidak baik dan tidak halal. Selain itu, cepat atau lambat sampeyan pasti ketahuan oleh majikan berbuat curang dan akibatnya pasti dipecat.” Nasihatku setelah berusaha mendamaikan dadaku yang masih bergemuruh oleh keharuan.

“Itulah pak…ini yang membuat saya bimbang dan bingung beberapa hari ini, antara ingin menyekolahkan anak dan tidak mau berbuat jahat. Tetapi kalau ingat anak gadis saya jadi pengangguran dan putus sekolah, rasanya pikiran baik saya terhalang oleh pikiran jahat itu pak. Saya juga tidak rela dunia akhirat jika demi untuk melanjutkan sekolahnya, anak saya harus menggadaikan akidahnya. Dan ini tidak ada ujungnya, muter terus sampai tiga hari ini saya masih pegang ini uang setoran pak…”. Jawabnya dengan nada yang diselimuti kesedihan dan kebingungan.

“Mas, sudahlah…jangan bingung, insyaAllah saya bisa bantu, bukankah sesama muslim harus saling membantu? Uang saya juga hanya titipan Allah dan sebagiannya milik mas juga, milik orang-orang yang membutuhkan seperti ini, mas. Berapa kira-kira uang sekolah untuk masuk Aliyah itu sih?” Tanyaku dengan nada suara sedikit bergetar karena keharuan. Bulir-bulir bening semakin membuat panas dan mengaburkan pandangan mataku.

Setelah sopir taxi yang entah siapa namanya itu menyebutkan jumlahnya dan setelah aku melirik ongkos taxi di argometer, aku menyerahkan uang itu kepadanya, dan tanpa terasa obrolah sepanjang jalan itu telah mengantarkanku di pintu pagar rumahku.

“Subhanalloooh….Yaa Allah Yang Maha Pemurah…alhamdulillah, terima kasih bapaaakk…akhirnya anak saya bisa melanjutkan sekolahnya…Jazakallah khoiron katsir bapaaak…semoga Allah membalas segala kebaikan bapak dengan berlipat ganda…Aamiiin.”  Dia setengah berteriak mengucap syukur dan terima kasih berulang kali sambil membukakan pintu taxinya.

“Aamiiin…Allah-lah yang memberikan pertolongan kepada mas, hati-hati bawa uangnya, dan segera setorkan ke pool hasil nariknya ya!” kataku mengakhiri perbincangan dan pertemuan di sore hari itu. Kembali dia menyalamiku dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.

-o0o-

Yaa Allah…berilah kelancaran dan kemudahan rizki kepada sopir taxi yang soleh itu, juga kepada anaknya, amanah-Mu kepadanya, agar bisa mengecap pendidikan agama-Mu lebih banyak lagi. Berikan juga kemudahan rizki kepadanya untuk segera dapat melihat rumah-Mu, Baitullah di Makkah. Alhamdulillah Ya Allah, sore ini Engkau telah menunjukkan ladang pahala kepadaku, meskipun aku tidak bisa menghemat ongkos taxiku, tapi aku sangat percaya bahwa Engkau Maha Kaya dan Maha Pemurah….Aamiiin.

Sudi al-Fakir (8 Juli 2010)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s