Pada 1/3 malam…

  • Adinda, bangunlah…

  • Kupilih kamu bukan sekedar cinta

  • Kupilih kamu untuk bersama ke surga

  • Kujauhi yang lain bukan karena aku tak suka

  • Kutinggalkan yang lain karena aku takut dosa

  • Bangunlah sayang…

  • Mari samasama kita gapai ridho-Nya…

(Sudi al-Fakir – Jum’at dinihari, 22 Juli 2011)

Menanti pagi…

Kusibak gelap malam
Saat rembulan sembunyi dibalik awan
Saat sepi mencengkeram
Saat gulita menyelimuti awan
Kucoba bertanya kepada dedaunan
Adakah esok kukan menjelang
Datangnya sang mentari
Di ufuk timur nan jelita
Kudapat jawab atas tanyaku
Ada dalam kuasa-Nya

(Sudi al-Fakir – Jum’at dinihari, 22 Juli 2011)

Nyanyi Sunyi

oh asa yang tak kunjung tiba
membawa gurindam kasihmu
meski hanya melipur mata sekejap
di pembaringan sunyi
dan kelebatan cahaya
yang setengah telanjang…

heningmu tak jua beranjak
dalam kebisuan yg kian menggigil
aroma kemenyan tersibak
keghaiban terasa
langit meredup
rembulan tersipu malu
guntur menggelegar
aku semakin terkapar…

 

(Sudi al-Fakir – Jum’at dinihari, 10 Feb 2012)

Hutan Tanpa Raja

Raja hutan sedang terbaring lemah
Hanya auman tapi tak didengar
Cakarnyapun tak ditakuti
Giginya tumpul dan beku
Sedang babi hutan berpestapora
Tetap melangkah berkecak pinggang

Semut-semut terinjak tanpa gamang
Dikiranya berjalan benar?
Sombong tapi dungu!

Lunglai tubuhku
Segalanya meremang dalam terang
Meski tak selemah benang basah
Apakah hutan ini masih punya arah?

 

Sudi al-Fakir, @ 8 Juni 2012 (Meneropong negeri Auto-Pilot)

Ratap Anak Negeri

Ketika pahit getirnya kau kunyah

kemelut itu tetap kan terasa perihnya

meski sejuta bianglala memerah

dan si pandirpun tak hendak mengalah

gempita dalam lara anak negri

 

Di onak duri ini kau terserak

dalam bayangbayang  jingga yang memudar

punah dalam sedusedan tak bermakna

aduhai galau yang kau tempa

riaknyapun enggan menepi

 

Kemilau pagi tak jua berseri

kicau burung terdengar bak cemeti

karena derita makanan keseharian

tenggelam dalam gelak rajaraja

menuang anggur para durjana

Sudi al-Fakir 11 Maret, 2012 (dalam sedih yg mendalam, melihat anak-anak negeri bergelantungan di jembatan miring yg hampir roboh, di atas sungai dengan air yg deras bergolak demi mencari ilmu di sekolahnya).

Belantara Duka

belantara itu

begitu kotor

kumuh

menjijikan

raja hutan

hanya mengaum

kehilangan cakar

ah…

segala dedemit

berpesta pora

hutan jahannam

semoga ada hujan

yang menyejukkan

di tahun menjelang


Sudi al- Fakir, Jum’at, 15 Desember 2011
(sumpek melihat berbagai “bancakan”uang rakyat di pemerintahan dan DPR dgn gelimang kemewahan, sementara rakyat kecil semakin didera derita)